Mitos Fenomena Kesurupan dan Penjelasan Medis Gangguan Disosiatif Menurut Ahli
- Klasifikasi Resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia
- Pandangan Praktisi Terapi Psikologi Terhadap Akar Masalah
- Faktor Risiko Mengapa Seseorang Mudah Mengalami Kondisi Disosiatif
- Kekeliruan yang Sering Terjadi dalam Penanganan di Masyarakat
- Langkah Tepat Menghadapi dan Merawat Korban Gangguan Disosiatif
Banyak orang mencari tahu informasi mengenai cara agar bisa kesurupan karena rasa penasaran yang tinggi terhadap fenomena mistis atau demi kebutuhan seni pertunjukan tari tradisional. Namun, dari sudut pandang ilmiah dan medis, keinginan untuk memicu kondisi ini secara sengaja justru menyimpan risiko gangguan mental yang serius bagi stabilitas psikologis seseorang.
Kondisi yang sering dianggap sebagai masuknya roh halus ke dalam tubuh manusia ini sebenarnya merupakan manifestasi dari tekanan emosional yang tidak disadari. Dunia kedokteran modern tidak melihat fenomena ini sebagai peristiwa supranatural, melainkan sebagai sebuah kondisi klinis yang berkaitan erat dengan fungsi otak dan kesehatan jiwa.
Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa fenomena tersebut bisa terjadi, bagaimana klasifikasi resminya dalam dunia medis, serta risiko fatal yang mengintai jika seseorang mencoba memicu kondisi kehilangan kesadaran ini secara sengaja.
Konsultasikan dengan profesional medis sebelum mengambil tindakan jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala penurunan kesadaran atau perubahan perilaku yang drastis.
Masyarakat umum sering kali langsung mengaitkan peristiwa kehilangan kesadaran atau perubahan kepribadian mendadak dengan hal-hal mistis. Padahal, dunia sains memiliki penjelasan yang sangat rasional mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada struktur otak dan psikologis manusia saat mengalami kondisi tersebut.
Secara ilmiah, fenomena ini diidentifikasi sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri psikologis yang ekstrem ketika seseorang tidak lagi mampu menahan beban stres. Otak secara otomatis melakukan pemisahan memori dan kesadaran untuk melindungi diri dari trauma yang terlampau berat.
Klasifikasi Resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO tidak mengabaikan fenomena ini, melainkan telah memasukkannya ke dalam panduan medis resmi. Berdasarkan International Classification of Diseases (ICD) yang diterbitkan oleh WHO, fenomena kesurupan dikategorikan secara resmi sebagai Gangguan Trans dan Kesurupan.
Di dalam literatur medis internasional, kondisi ini dikenal dengan istilah Trance and Possession Disorder atau Possession Trance Disorder. WHO memasukkan kondisi klinis ini ke dalam kelompok besar gangguan disosiatif, di mana penderitanya mengalami gangguan pada integrasi kesadaran, memori, identitas, atau kendali fungsi motorik tubuh.
Pandangan Praktisi Terapi Psikologi Terhadap Akar Masalah
Untuk memahami lebih dalam mengenai bagaimana gangguan ini terbentuk, pandangan dari para klinis senior sangat diperlukan. Seorang pengajar ilmu psikologi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang yang juga aktif sebagai praktisi terapi psikologi sejak tahun 2004, Siswanto, memberikan penjelasan ilmiah yang mendalam mengenai anatomi gangguan ini.
Secara ilmiah, gangguan kesurupan murni disebut dissociative identity disorder (DID) atau kepribadian majemuk. Pemakaian obat tidak efektif karena sifatnya sementara dan dapat sembuh sendiri. Kalau penanganan salah, pulihnya malah lama.
Siswanto, yang meraih gelar doktor di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada lewat disertasi berjudul Konstruksi Keyakinan Agama Personal pada Individu yang Pernah Mengalami Gangguan Kesurupan pada bulan April, menegaskan bahwa akar masalahnya terletak pada kondisi mental personal penderita.
Beliau memaparkan bahwa jenis gangguan kesurupan terbagi ke dalam dua kelompok utama berdasarkan pemicunya. Pemahaman ini sangat penting agar masyarakat tidak sembarangan melakukan intervensi yang justru bisa memperburuk kondisi psikologis pasien.
- Gangguan Mental dengan Tanda Depresi: Kondisi di mana akumulasi stres, kesedihan mendalam, dan tekanan hidup yang tidak terselesaikan memicu runtuhnya dinding kesadaran secara perlahan.
- Gangguan Kesurupan Murni: Kondisi disosiatif yang muncul secara tiba-tiba tanpa adanya tanda-tanda depresi yang terlihat jelas sebelumnya, sering kali dipicu oleh stimulus lingkungan yang traumatis.
Fakta bahwa kondisi ini merupakan bagian dari gangguan disosiatif membuktikan bahwa mencoba mencari tahu cara agar bisa kesurupan secara sengaja adalah tindakan yang berbahaya, karena sama saja dengan memicu gangguan jiwa buatan pada diri sendiri.
Faktor Risiko Mengapa Seseorang Mudah Mengalami Kondisi Disosiatif
Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap gangguan disosiatif ini. Ada beberapa faktor psikologis dan situasi lingkungan tertentu yang membuat benteng pertahanan kesadaran seseorang menjadi jauh lebih rapuh dan mudah runtuh.
Memahami faktor-faktor risiko ini sangat penting bagi kita untuk melakukan deteksi dini dan mencegah terjadinya serangan disosiatif, baik yang bersifat personal maupun yang terjadi secara massal di lingkungan publik.
| Faktor Pemicu | Jenis Kategori | Dampak pada Kesadaran |
|---|---|---|
| Depresi Berat | Internal Psikologis | Melemahkan kontrol ego dan fokus pikiran |
| Trauma Masa Lalu | Internal Psikologis | Memicu fragmentasi ingatan dan identitas diri |
| Tekanan Kelompok | Eksternal Lingkungan | Memicu histeria massa akibat sugesti bawah sadar |
| Kelelahan Fisik Ekstrem | Fisik Biologis | Menurunkan suplai oksigen dan fokus korteks serebral |
Berdasarkan data klinis yang dihimpun oleh para psikolog, seseorang yang memiliki tingkat sugestibilitas yang tinggi serta kemampuan koping stres yang rendah akan jauh lebih mudah masuk ke dalam kondisi trans disosiatif ini.
Kekeliruan yang Sering Terjadi dalam Penanganan di Masyarakat
Hingga saat ini, miskonsepsi mengenai fenomena disosiatif ini masih sangat kental di tengah masyarakat Indonesia. Ketika melihat ada individu yang mengalami gejala ini, tindakan yang diambil sering kali justru memperparah kondisi mental korban akibat ketidaktahuan.
Siswanto menyayangkan pola penanganan konvensional yang selama ini jamak diterapkan oleh publik ketika menghadapi kasus histeria atau gangguan disosiatif, terutama yang terjadi dalam skala kelompok atau massal.
Menurut pengamatan Siswanto, sering kali jenis kesurupan itu tidak bisa kita deteksi dan bedakan antara gangguan jiwa dan kesurupan karena adanya klaim-klaim keyakinan dan penangannya yang salah. Hal inilah yang membuat durasi pemulihan korban menjadi jauh lebih lama dari yang seharusnya.
Lebih lanjut, beliau juga menyoroti kesalahan fatal dalam manajemen penanganan korban di lapangan. Selama ini masyarakat sebenarnya agak kurang tepat dalam menangani kesurupan massal. Mereka yang mengalami kesurupan menjadi fokus perhatian, sedangkan mereka yang sehat tidak kesurupan diabaikan.
Pemberian perhatian yang berlebihan kepada korban yang sedang mengalami histeria justru memberikan penguatan bawah sadar (secondary gain) bagi otak mereka untuk tetap bertahan dalam kondisi trans tersebut. Sebaliknya, isolasi dan ketenangan adalah kunci utama dalam meredakan serangan disosiatif.
Langkah Tepat Menghadapi dan Merawat Korban Gangguan Disosiatif
Jika Anda berada di situasi di mana terdapat seseorang yang mendadak mengalami penurunan kesadaran, perubahan suara, atau histeria, sangat penting untuk tetap tenang dan tidak ikut panik agar tidak memberikan stimulasi negatif tambahan.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memindahkan korban ke tempat yang sepi, tenang, dan sejuk, jauh dari kerumunan orang banyak. Matikan suara-suara yang bising dan batasi jumlah orang yang melihat agar korban tidak menjadi pusat tontonan.
Jangan memberikan respons emosional yang berlebihan terhadap apa yang diucapkan oleh korban saat berada dalam kondisi disosiatif. Cukup dampingi dengan tenang, pastikan fisik mereka aman dari benturan, dan tunggu hingga kesadaran mereka kembali secara alami dengan stimulasi fisik yang lembut.
Apabila kondisi kehilangan kesadaran atau perubahan kepribadian ini terjadi secara berulang, tindakan medis dan psikoterapi yang intensif mutlak diperlukan. Langkah terbaik adalah segera membawa individu tersebut ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan langsung dari dokter spesifik kejiwaan atau psikiater guna mendapatkan terapi kognitif yang tepat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow