Monsun Australia Sebabkan Suhu Dingin di Puncak Bogor Saat Musim Kemarau

Smallest Font
Largest Font

Musim kemarau melanda 73,8% wilayah Indonesia, namun Puncak Bogor mengalami suhu dingin pada sore hingga malam hari, berbeda dari wilayah lain, dilansir dari Detikcom.

Pakar iklim Dr Givo Alsepa dari IPB University menyatakan udara dingin di Puncak dipengaruhi oleh masuknya massa udara dari Australia yang relatif kering dan dingin saat melewati Indonesia dan Samudra Hindia.

Dia menjelaskan, "Udara dingin yang dirasakan di Puncak pada sore menjelang malam saat musim kemarau memang dapat dipengaruhi masuknya massa udara dari Australia. Massa udara tersebut umumnya memiliki karakter relatif kering dan lebih dingin ketika bergerak melewati wilayah Indonesia dan Samudra Hindia."

Fenomena ini terjadi karena tekanan udara di Australia lebih tinggi dibanding Asia, menyebabkan aliran angin dari Australia ke Indonesia dan membentuk pola musim kemarau.

"Monsun Australia berperan dalam pembentukan kondisi musim kemarau di Indonesia. Pada periode tersebut, tekanan udara di Australia relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Asia. Perbedaan tekanan ini menghasilkan pola aliran angin timuran hingga tenggara yang bergerak dari Australia menuju Indonesia," ujar Dr Givo Alsepa.

Monsun ini diperkirakan aktif hingga akhir tahun, sementara BMKG memprediksi musim kemarau berlangsung sampai September 2026.

Dingin di Puncak juga dipengaruhi oleh kondisi udara kering dan langit cerah yang menyebabkan permukaan bumi kehilangan panas lebih cepat setelah matahari terbenam.

"Udara yang lebih kering dan minim tutupan awan membuat permukaan bumi menerima lebih banyak radiasi matahari pada siang hari sehingga mengalami pemanasan cukup tinggi. Setelah matahari terbenam, permukaan bumi kemudian melepaskan panas dalam bentuk radiasi gelombang panjang ke atmosfer dan angkasa," paparnya.

Langit cerah dan uap air rendah membuat pelepasan panas berlangsung efektif, mempercepat penurunan suhu.

"Akibatnya, permukaan Bumi kehilangan panas dengan cepat. Proses ini disebut pendinginan radiatif," tambah Dr Givo yang juga Sekretaris Program Studi Klimatologi Terapan IPB University.

Ia menegaskan, "Jadi, suhu dingin yang dirasakan warga maupun wisatawan di Puncak saat musim kemarau merupakan hasil interaksi antara pola angin monsun Australia, massa udara yang relatif kering, kondisi langit, serta proses pendinginan radiatif setelah matahari terbenam."

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow