PPI ITB Ingatkan Pentingnya Terjemahkan Informasi El Nino Menjadi Tindakan

Smallest Font
Largest Font

Pusat Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung (PPI ITB) mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tidak hanya fokus pada label "El Nino kuat" melainkan menerjemahkan informasi iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi tindakan nyata dalam mitigasi risiko.

Ketua Tim Pakar PPI ITB, Dr Tri Wahyu Hadi menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena interaksi laut dan atmosfer di Samudra Pasifik yang menyebabkan perubahan suhu muka laut dan sirkulasi atmosfer sehingga mengurangi pasokan uap air dan menurunkan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia.

Tri Wahyu menegaskan bahwa dampak El Nino berbeda-beda tiap wilayah dan sektor, tergantung musim dan karakteristik daerah. Dampaknya meliputi penurunan produksi pertanian, berkurangnya pasokan air sungai dan waduk, penurunan produksi listrik tenaga air, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Direktur Perubahan Iklim BMKG, Dr A Fachri Radjab, menambahkan bahwa pada puncak kemarau beberapa wilayah yang lebih kering berpotensi mengalami kekeringan dan kebakaran hutan-lahan, sementara saat memasuki masa peralihan ke musim hujan masyarakat harus mewaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan angin kencang.

PPI ITB juga menilai El Nino tidak selalu berdampak negatif. Kondisi kering dapat membuka peluang seperti peningkatan produksi garam dan perikanan tangkap, serta penanaman padi di lahan rawa lebak saat muka air turun.

Peneliti Senior PPI ITB dan BRIN, Elza Sumarni, menjelaskan bahwa sejak 1990 hingga 2024, penurunan produksi padi nasional akibat El Nino berkisar 0,5-1,7 juta ton, namun tidak semua wilayah terdampak. Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas adaptasi petani melalui sistem informasi cuaca dan iklim, penyesuaian kalender tanam, varietas tahan kekeringan, efisiensi air, dan diversifikasi tanaman.

Kepala PPI ITB, Prof Ir Djoko Santoso Abi Suroso, menyatakan bahwa El Nino bukan fenomena baru di Indonesia dan dampaknya telah berulang sehingga dapat dipantau dan diprediksi beberapa bulan sebelumnya. Informasi BMKG harus dijadikan dasar antisipasi di sektor pangan, sumber daya air, energi, dan mitigasi kebakaran hutan-lahan.

Prof Djoko menegaskan bahwa penanganan El Nino harus berbasis risiko dengan persiapan sebelum dampak mencapai kondisi kritis. Ia menekankan pentingnya masyarakat mengetahui dampak dan risiko di wilayah masing-masing serta langkah antisipasi yang diperlukan.

Peneliti PPI ITB bidang risiko air, Fikry Purwa Lugiana, menjelaskan bahwa kekeringan berkembang bertahap mulai dari penurunan kelembapan tanah, aliran permukaan, pengisian air tanah, hingga debit sungai yang menurun dan mengganggu ketersediaan air bagi masyarakat.

Fikry mengingatkan agar prakiraan cuaca tidak hanya dianggap informasi semata, melainkan harus diterjemahkan menjadi keputusan dan tindakan nyata. Langkah antisipasi meliputi pemantauan curah hujan, debit sungai, muka air waduk, dan air tanah, pengaturan alokasi air, persiapan sumber alternatif, serta penguatan kapasitas tampungan dan konservasi daerah aliran sungai.

PPI ITB menegaskan bahwa dengan menerjemahkan informasi iklim menjadi tindakan, risiko dapat ditekan dan peluang yang muncul dapat dimanfaatkan secara optimal, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow