Prasasti Termasuk Sumber Sejarah Apa Saja Jenis dan Bukti Fisiknya
Banyak orang masih bingung ketika ditanya prasasti termasuk sumber sejarah apa dalam rekonstruksi masa lalu. Saya melihat sering terjadi tumpang tindih pemahaman antara benda mati dan teks tertulis yang ada di permukaan batu kuno tersebut.
Secara tegas saya menilai bahwa prasasti menempati posisi yang sangat istimewa karena ia tidak bisa dimasukkan ke dalam satu kotak sempit saja. Melalui bukti fisik, kita dipaksa melihat bagaimana sebuah artefak mampu berbicara melintasi zaman.
Memahami posisi prasasti akan membantu kita memetakan masa lalu dengan lebih akurat tanpa terjebak pada asumsi mentah.
Jika merujuk pada pembagian klasifikasi sosiologis dan arkeologis, prasasti termasuk sumber sejarah yang unik. Ia memegang dua predikat sekaligus secara bersamaan, yaitu sebagai sumber benda dan sumber tulisan.
Sebagai sumber benda, prasasti merupakan artefak fisik atau makro-objek yang terbuat dari material tahan lama seperti batu atau logam. Kita bisa menyentuh, mengukur, dan menganalisis materialnya secara langsung.
Namun, nilai utamanya terletak pada coretan aksara di permukaannya yang menjadikannya masuk dalam jenis jenis sumber sejarah beserta contohnya untuk kategori tulisan. Sifat ganda inilah yang membuat saya mengagumi prasasti dibanding sumber lisan kuno.
Pengertian Menurut Para Pakar
Untuk memahami dasar penentuan ini, kita harus melihat bagaimana pengertian sumber sejarah menurut para ahli di bidangnya. Pandangan mereka memberikan batas tegas mengenai apa yang bisa dijadikan alat bukti.
R. Moh. Ali dalam buku Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia (2005) menyatakan bahwa sumber sejarah adalah segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud, serta berguna bagi penelitian sejarah Indonesia sejak zaman purba sampai sekarang.
"Sumber sejarah adalah segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud, serta berguna bagi penelitian sejarah Indonesia sejak zaman purba sampai sekarang."
Sementara itu, Muh. Yamin memberikan pandangan yang sedikit berbeda namun saling melengkapi. Menurut beliau, sumber sejarah adalah kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah.
Dari kedua definisi tersebut, prasasti jelas masuk dalam kriteria benda kebudayaan yang berwujud dan merekam informasi penting.
Aturan Resmi Pendidikan
Dasar hukum pembagian ini juga diperkuat oleh aturan legal di negara kita. Permendikbud Nomor 69 Tahun 2016 menyebutkan jenis-jenis sumber sejarah berdasarkan sifat dan bentuknya secara terstruktur.
Kamus Umum Bahasa Indonesia juga menyatakan sejarah merupakan kesusastraan lama, silsilah, asal-usul, serta kejadian masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan berbagai peristiwa. Fatayat Ridlo Mintarsih dalam buku Sejarah Indonesia juga menegaskan bahwa penemuan-penemuan dari peninggalan berbagai peristiwa di masa lampau disebut sumber sejarah.
Perbedaan Kedudukan Sumber Sejarah
Kita tidak bisa menyamakan semua peninggalan masa lalu dalam satu tingkatan kredibilitas yang sama. Peneliti harus jeli melihat perbedaan sumber primer sekunder tersier sebelum melakukan analisis mendalam.
Prasasti secara mutlak berada di kasta tertinggi, yaitu sebagai apa itu sumber sejarah primer. Mengapa demikian? Karena ia dibuat langsung pada zaman peristiwa itu terjadi oleh pihak yang terlibat atau atas perintah otoritas resmi saat itu.
Sebaliknya, contoh sumber sejarah sekunder biasanya berupa buku atau catatan yang ditulis oleh sejarawan modern setelah meneliti prasasti tersebut. Jadi, ada jarak waktu yang sangat jauh antara peristiwa asli dengan pencatatan sekunder.
Kelemahan Prasasti sebagai Sumber
Meskipun tingkat kepercayaannya tinggi, saya harus bersikap kritis terhadap penggunaan prasasti. Artefak ini bukan tanpa cacat atau kekurangan dalam dunia riset.
Kekurangan utama prasasti adalah sifat informasinya yang sangat lokal, singkat, dan kadang subjektif karena ditulis atas perintah raja (bersifat pujasastra). Seringkali teksnya hanya berisi pujian atau peresmian tanah sima tanpa menceritakan kondisi sosial masyarakat bawah secara detail.
Selain itu, tingkat kerusakan fisik akibat cuaca selama ratusan tahun membuat banyak aksara terkikis dan sulit dibaca secara utuh.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai pembagian bentuk fisik peninggalan ini, mari perhatikan data berikut.
| Kategori Sumber | Bentuk Fisik Peninggalan | Tingkat Kredibilitas | Keterbatasan Analisis |
|---|---|---|---|
| Sumber Benda (Artefak) | Patung Buddha Tidur Mojokerto | Primer atau Sekunder | Tidak memiliki teks penjelasan tertulis langsung |
| Sumber Benda (Artefak) | Patung Dewa Murungan Langkat | Primer atau Sekunder | Butuh analisis ikonografi yang rumit |
| Sumber Benda (Artefak) | Patung Garuda Wisnu Kencana Bali | Modern | Bukan objek sisa peristiwa masa lalu kuno |
| Sumber Tulisan & Benda | Prasasti Gajah Mada Malang | Mutlak Primer | Beberapa bagian aksara rawan aus atau terkikis |
Studi Kasus Otentik Prasasti Gajah Mada
Salah satu bukti nyata dari kekuatan prasasti dalam memecahkan misteri masa lalu dapat kita lihat pada penemuan Prasasti Gajah Mada. Artefak ini menjadi kunci penting bagi para epigraf.
Objek vital ini ditemukan pada tahun 1904 di kolam Haji Napi, sebelah utara Candi Singosari, Malang. Penemuan awal di wilayah Jawa Timur tersebut langsung mengubah peta riset mengenai akhir masa Singasari dan awal Majapahit.
Saat ini, demi keamanan dan perawatan yang lebih baik, prasasti tersebut telah dipindahkan ke Museum Nasional Jakarta agar masyarakat luas bisa melihatnya langsung.
Fungsi dan Penanggalan Spesifik
Bagi Anda yang penasaran mengenai apa fungsi prasasti gajah mada dalam sejarah, jawabannya adalah sebagai pencatat keputusan hukum dan upacara keagamaan. Teks di dalamnya memperingati pembangunan sebuah bangunan suci untuk para rishi.
Secara detail, prasasti ini memiliki angka tahun 1273 Saka atau jika dikonversi ke penanggalan masehi menjadi tahun 1351 Masehi. Angka yang sangat presisi ini memotong semua spekulasi liar sejarawan mengenai linimasa hidup Mahapatih Gajah Mada.
Berikut adalah beberapa poin penting terkait jenis peninggalan sejarah yang umum ditemukan di Indonesia:
- Prasasti batu atau logam sebagai rekaman maklumat resmi kerajaan.
- Naskah kuno pada daun lontar atau kertas lama.
- Monumen atau bangunan suci seperti candi dan tempat pemujaan.
- Karya seni rupa berbentuk arca atau relief dinding bangunan.
Perbandingan dengan Tradisi Menulis Luar Negeri
Jika kita membandingkan dengan kawasan Asia lain, tradisi mencatat di nusantara melalui batu tergolong cukup lambat berkembang. Kita perlu berkaca pada wilayah lain untuk melihat perbandingan kontrasnya.
Bangsa Tiongkok memiliki tradisi menulis semua aktivitas masa lalu sejak tahun 1600 SM yang terus dipertahankan hingga saat ini. Fakta tersebut menunjukkan adanya jurang waktu pencatatan tertulis yang sangat lebar jika dibandingkan dengan kemunculan prasasti awal di Indonesia.
Namun, keterbatasan sumber tertulis kuno di dalam negeri memicu para sejarawan modern untuk mencari alternatif lain guna melengkapi bagian narasi yang hilang.
Perkembangan Metode Sejarah Lisan
Akibat minimnya dokumen tertulis pada periode tertentu, para ahli mulai melirik metode non-benda. Langkah ini diambil untuk mengisi kekosongan data pasca-era kerajaan tradisional.
Di Indonesia, metode wawancara dalam penulisan sejarah mulai dikembangkan melalui proyek sejarah lisan yang ditangani oleh Badan Arsip Nasional. Pendekatan lisan ini menjadi penyelamat untuk merekonstruksi sejarah kontemporer yang tidak sempat terpahat di atas batu prasasti.
Bagaimanapun juga, keberadaan dokumen fisik tertulis tetap memegang kendali utama dalam validitas sebuah cerita masa lalu.
Prasasti adalah jangkar utama sejarah kuno kita yang menyatukan dimensi benda dan tulisan dalam satu media. Kehadirannya memotong bias informasi karena ia merekam peristiwa dari titik waktu yang sama saat sejarah itu terjadi tanpa intervensi tafsir modern yang keliru.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow