Memahami Sejarah sebagai Kisah dan Cara Menemukannya dalam Kehidupan

Smallest Font
Largest Font

Menemukan sejarah sebagai sebuah kisah dapat kita temui dalam berbagai narasi lisan, buku teks, maupun memoar yang beredar di masyarakat saat ini. Banyak orang sering kali bingung ketika membedakan antara kejadian nyata di masa lalu dengan cerita yang kita baca di buku-buku pelajaran. Sebagai praktisi yang sering menyusun dokumentasi naratif, saya melihat kegagalan memahami ruang lingkup ini membuat orang mudah tertipu oleh hoaks sejarah.

Secara mendasar, "apa itu sejarah sebagai kisah" merupakan hasil rekonstruksi para ahli terhadap peristiwa nyata yang diwujudkan dalam bentuk narasi.

Lembaga akademik pada abad ke-19 mulai memelopori profesionalisasi penulisan sejarah dengan membentuk metodologi yang sangat ketat untuk menyusun kisah-kisah ini. Dari pengalaman saya menangani berbagai proyek literasi, pemahaman etimologi sangat membantu kita melihat bagaimana sebuah cerita masa lalu dibangun secara struktural.

Kata sejarah sendiri memiliki akar yang sangat kaya dari berbagai bahasa dunia:

  • Bahasa Arab: kata Syajaratun yang berarti pohon, serta kata Tarikh yang memiliki arti waktu.
  • Bahasa Yunani: kata Historia yang mengandung makna sebagai ilmu.
  • Bahasa Inggris: kata History yang merujuk langsung pada masa lalu.

Ketika peristiwa nyata di masa lalu itu ditulis kembali, ia berubah wujud menjadi sebuah kisah yang bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.

Pandangan Para Ahli Mengenai Narasi Sejarah

Para sejarawan terkemuka memberikan batasan yang tegas mengenai bagaimana sebuah peristiwa bertransformasi menjadi cerita yang dipercaya oleh masyarakat luas. J. Sumardianta dkk dalam buku Sejarah menyatakan bahwa sejarah dikatakan sebagai kisah bila sejarah berperan dalam perkembangan sosial. Perkembangan sosial tersebut kemudian dijadikan oleh masyarakat sebagai sebuah cerita dan dipercaya sungguh-sungguh terjadi dalam kehidupan nyata mereka.

Pendapat ini melengkapi pandangan James Banks yang menyatakan bahwa yang dimaksud dan termasuk dalam sejarah adalah semua kejadian atau peristiwa masa lalu.

Sementara itu, sejarawan asal Jerman Leopold von Ranke menekankan objektivitas dengan menyatakan bahwa sejarah adalah peristiwa yang terjadi.

Sejarah sebagai kisah adalah jembatan emosional dan intelektual yang menghubungkan kejadian murni di masa lalu dengan kesadaran kolektif masyarakat modern melalui media bahasa.

Langkah Konkret Menemukan Sejarah sebagai Kisah

Menemukan dan menyusun sejarah sebagai kisah memerlukan ketelitian instruksional agar hasilnya tidak bias atau condong menjadi mitos fiktif belaka.

Dalam kasus yang sering saya temui, banyak penulis pemula langsung melompat pada kesimpulan tanpa melakukan kritik sumber yang memadai.

Berikut adalah urutan langkah logis yang dapat Anda eksekusi untuk mengidentifikasi dan menyusun narasi sejarah secara profesional:

  1. Melakukan Heuristik (Pengumpulan Sumber): Kumpulkan semua jejak masa lalu seperti dokumen, prasasti, otobiografi, atau hasil wawancara lisan dengan pelaku sejarah.
  2. Menjalankan Verifikasi (Kritik Sumber): Uji keaslian materi sumber secara eksternal maupun internal untuk memastikan data di dalamnya bukan rekayasa.
  3. Melakukan Interpretasi (Penafsiran): Rangkai fakta-fakta yang telah teruji menjadi satu kesatuan hubungan sebab-akibat yang logis dan objektif.
  4. Melakukan Historiografi (Penulisan Sejarah): Tuliskan hasil penafsiran tersebut ke dalam sebuah narasi kronologis yang menarik dan mudah dipahami pembaca.

Kesalahan umum yang saya lihat adalah mencampuradukkan opini pribadi penafsir tanpa didukung oleh fakta-fakta dokumen yang kuat di lapangan.

Pastikan setiap kalimat yang Anda susun dalam tahap historiografi selalu merujuk pada hasil verifikasi internal yang telah dilakukan sebelumnya.

Filosofi Mitos dan Kebenaran yang Tersembunyi | Kausalisme

Perbedaan Nyata antara Kisah dan Peristiwa

Masyarakat sering kali kesulitan melihat "bedanya sejarah sebagai kisah dan peristiwa" karena kedua hal ini sekilas tampak persis sama.

Padahal, sejarah sebagai peristiwa bersifat objektif dan sekali terjadi, sedangkan sejarah sebagai kisah bersifat subjektif tergantung pada siapa yang menulisnya.

Untuk memudahkan pemahaman Anda, mari kita lihat tabel perbandingan karakteristik ruang lingkup keduanya secara mendalam di bawah ini.

Perbandingan Ruang Lingkup Sejarah sebagai Peristiwa dan Sejarah sebagai Kisah
Karakteristik PembandingSejarah sebagai PeristiwaSejarah sebagai Kisah
Sifat DasarObjektifSubjektif
Jumlah KejadianSekali TerjadiDapat Ditulis Ulang
Ketergantungan MediaAbadiTergantung Penulis
Wujud FisikKejadian NyataBuku atau Lisan

Melalui pemahaman "pengertian ruang lingkup sejarah" yang tepat, kita bisa melihat bahwa teks proklamasi di buku sekolah adalah sebuah kisah.

Sementara itu, tindakan fisik pembacaan teks tersebut di masa lalu merupakan peristiwa murni yang tidak akan pernah berubah.

Contoh Nyata yang Dapat Ditemukan dalam Literatur

Kita dapat menemukan banyak sekali ragam narasi yang membuktikan bagaimana peristiwa nyata diubah menjadi susunan kisah yang rapi.

Sebagai contoh, mari kita perhatikan beberapa momen krusial dalam lini masa peradaban nusantara dan dunia yang telah dibukukan.

Narasi Kemerdekaan Indonesia

Sebuah "contoh sejarah sebagai peristiwa" yang sangat monumental adalah Tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI yang terjadi pada hari Jumat, 17 Agustus 1945.

Peristiwa pembacaan teks tersebut kini dapat kita temukan sebagai kisah dalam buku-buku sejarah sekolah dengan berbagai sudut pandang ulasan. Begitu pula dengan Tanggal Pengakuan De Jure Kemerdekaan Indonesia oleh Belanda yang ditandatangani secara resmi terjadi pada tanggal 27 Desember 1949.

Semua catatan tertulis mengenai dinamika diplomasi di Den Haag tersebut merupakan wujud nyata dari sejarah yang telah dikisahkan kembali.

Kronik Kerajaan Majapahit

Contoh lain dapat kita lihat pada linimasa Waktu Berdirinya Kerajaan Majapahit (Wilwatikta) yang berpusat di Jawa Timur sekitar tahun 1293–1527 M. Masa Kejayaan Kerajaan Majapahit yang tercapai di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk terjadi sekitar tahun 1350–1389 juga menjadi tema kisah yang populer. Kita menemukannya dalam bentuk buku novel sejarah, ketoprak, hingga kajian akademis yang ditulis oleh para sejarawan modern saat ini.

Setiap penulis memiliki gaya bahasa yang berbeda dalam menggambarkan kemegahan masa lalu Majapahit, menunjukkan sifat subjektivitas dari sebuah kisah sejarah.

Tips Menilai Objektivitas Sebuah Kisah Sejarah

Ketika Anda membaca sebuah buku sejarah, Anda sedang melihat masa lalu dari kacamata sang penulis buku tersebut. Dari pengalaman saya meriset berbagai literatur, ada beberapa tips praktis yang bisa Anda gunakan untuk menguji kualitas subjektivitas suatu narasi. Selalu periksa daftar pustaka untuk melihat apakah penulis menggunakan sumber primer yang sezaman atau hanya mengandalkan sumber-sumber sekunder belaka.

Bandingkan dua buku yang membahas satu peristiwa yang sama tetapi ditulis oleh dua orang dari latar belakang bangsa yang berbeda.

Langkah ini sangat efektif untuk melatih ketajaman berpikir kritis kita dalam memisahkan antara fakta murni dengan opini pemanis narasi. Membaca sejarah dengan cara kritis seperti ini menjauhkan kita dari jebakan propaganda politik yang sering memanfaatkan cerita masa lalu.

Narasi sejarah yang kredibel akan selalu memaparkan bukti-bukti dokumen secara transparan tanpa menyembunyikan fakta yang dirasa kurang menguntungkan. Kejelian dalam memilah teks ini menjadi kompetensi penting bagi masyarakat modern agar tidak mudah disesatkan oleh klaim-klaim historis tanpa dasar yang kuat.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed