Sikap Rektor UI Terkait Tingginya Angka Pengangguran Jurusan Manajemen
Tingginya angka pengangguran dari lulusan jurusan manajemen menjadi sorotan setelah diterbitkannya laporan studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI).
Riset bertajuk 'Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?' melansir bahwa tingkat pengangguran dari jurusan manajemen menyentuh angka 10,3 persen, seperti dilansir dari Detikcom.
Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof Heri Hermansyah, memberikan tanggapannya mengenai temuan tersebut. Faktor besarnya jumlah lulusan dan sifat keilmuan yang umum dinilai menjadi pemicu utama tingginya angka tersebut secara general.
"Jurusan manajemen atau hukum itu ada di mana-mana (banyak universitas), populasinya sangat besar. Jadi secara general, bisa jadi angkanya terlihat tinggi karena jumlah lulusannya memang masif," ujar Heri di Gedung Makara Art UI, Depok, Jawa Barat, Rabu (12/8/2026).
Masa tunggu lulusan UI untuk memperoleh pekerjaan rata-rata berkisar antara 2 hingga 3 bulan. Kondisi ini menunjukkan performa internal kampus yang tetap stabil.
Lulusan dari program studi dengan keahlian spesifik bahkan mendapat perhatian lebih awal dari perusahaan pencari kerja.
"Di UI, jurusan Manajemen tidak mengalami kesulitan. Justru yang menarik adalah jurusan spesifik seperti Aktuaria atau Administrasi Fiskal. Sebelum mereka wisuda, bahkan baru selesai sidang, perusahaan-perusahaan sudah 'mengijon' mereka, banyak yang langsung direkrut di tempat mereka magang sebelumnya," tutur Heri.
Langkah Strategis UI Menghadapi Tantangan Industri
Penyelarasan kurikulum serta pembentukan karakter mahasiswa menjadi langkah prioritas UI dalam mengantisipasi ancaman pengangguran bagi para alumni.
Ketua Dewan Guru Besar UI, Prof Eko Prasojo, menjelaskan bahwa penyesuaian kurikulum dilakukan guna menjawab tantangan kebutuhan dunia kerja masa depan secara berkesinambungan.
Pengembangan aspek soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, dan interaksi sosial turut diperkuat agar para lulusan tidak sekadar mengandalkan lembaran ijazah saat bersaing.
"Mahasiswa harus memiliki kemampuan berbicara, menulis, memimpin, hingga berinteraksi dengan orang lain. Soft skill inilah yang seringkali menjadi penentu lulusan bisa bertahan dan berkompetisi di dunia kerja," kata Eko.
Sektor industri dan investasi nasional diharapkan mendapat perbaikan ekosistem serta kemudahan birokrasi dari pemerintah demi mengimbangi ketersediaan tenaga kerja terdidik.
"Tugas universitas adalah memastikan lulusan tetap relevan. Namun, pemerintah juga perlu memperbaiki ekosistem industri agar investor mau masuk dan menyerap tenaga kerja terdidik kita," katanya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow