Siswa SMA Asal Irlandia Ciptakan Plastik Ramah Lingkungan Pengurai Mikroplastik
Arya Satheesh, seorang pelajar berusia 18 tahun dari Letterkenny, County Donegal, Irlandia, berhasil menciptakan inovasi berupa plastik berbahan dasar tanaman. Inovasi ini mampu menguraikan mikroplastik di lingkungan secara alami saat plastik tersebut terurai, dilansir dari Detikcom.
Satheesh telah meneliti polusi plastik dan tantangan mendeteksi mikroplastik pada air minum selama beberapa tahun terakhir. Penyebaran pecahan plastik berukuran kurang dari lima milimeter ini menjadi perhatian global karena dapat menyusup ke lingkungan, tubuh manusia, serta hewan.
"Saya ingin mencari solusi," ujar Satheesh.
"Menurut saya, tidak ada gunanya hanya terus-menerus mengatakan, 'Ayo daur ulang, ayo daur ulang," imbuhnya, dikutip dari Smithsonian Magazine.
Penelitian pola perilaku menunjukkan bahwa meski sebagian orang sukarela mendaur ulang, ada pihak lain yang tidak mau berusaha atau tidak peduli. Selain itu, harga plastik yang lebih murah dibanding material lain menjadikannya pilihan utama masyarakat luas.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Satheesh mengembangkan Eco Purge, yaitu plastik biodegradable berbahan tanaman. Setelah dibuang, material ini memerlukan waktu hingga dua minggu untuk terurai sekaligus melepaskan enzim pemecah mikroplastik yang ada di tanah dan air.
Eco Purge memenangkan kategori Eropa pada Earth Prize 2026, kompetisi lingkungan hidup terbesar bagi pelajar muda. Ajang ini memberikan bimbingan, sumber daya pembelajaran, serta hadiah uang tunai untuk mendukung pengerjaan prototipe Satheesh.
Awal Mula Pengembangan Proyek
Satheesh kerap mengikuti kompetisi sains karena kebebasan meneliti topik apa saja mendorongnya berinovasi. Hampir dua tahun lalu di SciFest, ia merancang alat pemantau air pintar untuk mendeteksi kontaminan dalam air minum.
Proyek tersebut menyadarkan Satheesh bahwa mendeteksi mikroplastik hanya mengungkap keberadaan masalah, sementara masyarakat memerlukan solusi nyata.
Direktur Eksekutif sekaligus ilmuwan peneliti senior di Shaw Institute, Charles Rolsky, menjelaskan bahwa mikroplastik bertindak seperti spons beracun di ekosistem yang menyerap logam berat dan bahan kimia sintetis. Penyerapan partikel ini oleh satwa atau manusia memicu peradangan internal, gangguan pencernaan, serta pelepasan bahan kimia ke jaringan biologis.
Kondisi itu mendorong Satheesh meneliti kemungkinan membuat plastik biodegradable berenzim khusus untuk menguraikan mikroplastik di sekitarnya. Dengan begitu, penggunaan plastik tidak lagi merusak lingkungan.
"Jadi, orang-orang punya kebiasaan membuang barang begitu saja, atau kita bahkan bisa membuangnya ke tempat pembuangan akhir (TPA); material ini tetap akan terurai dan melepaskan enzim di TPA tersebut untuk menguraikan mikroplastik yang sudah ada di sana," jelasnya.
"Itulah titik awal dari Eco Purge," ujarnya.
Tantangan Pengadaan Enzim Khusus
Dalam proses perancangan cetak biru, Satheesh menghadapi kendala ketersediaan enzim yang langka dan mahal. Keterbatasan dana sebagai pelajar sempat menghambat rencana produksinya.
Guna mengatasi masalah biaya, Satheesh memanfaatkan ChatGPT untuk mengumpulkan daftar perusahaan di Eropa dan Amerika Serikat yang bereksperimen dengan enzim tersebut. Ia lalu mengirimkan surel untuk menanyakan ketersediaan bahan.
"Tapi harganya sangat mahal bagi saya sebagai seorang pelajar," katanya.
"Sekitar tiga miligram saja harganya mencapai 2.500 dolar AS," ungkapnya.
Respons positif akhirnya datang dari Kevin O'Connor, Direktur BiOrbic (Pusat Penelitian Bioekonomi Nasional Irlandia). O'Connor membantu mengimpor dua jenis enzim dari Denmark serta Jerman, lalu mengirimkannya ke Atlantic Technological University untuk disimpan secara aman.
Pada Januari lalu, Satheesh mempresentasikan prototipe awal Eco Purge di Stripe Young Scientist & Technology Exhibition. Selanjutnya, dalam ajang Earth Prize, bantuan mentor memungkinkannya menemukan metode bioteknologi agar Eco Purge diproduksi lebih hemat biaya.
Pengujian dilakukan dengan menempatkan mikroplastik dan Eco Purge di tanah, air asin, serta air tawar selama enam minggu. Hasil pemantauan menunjukkan seluruh kontaminan mikroplastik maupun material Eco Purge berhasil terurai sempurna.
"Versi 'Young Scientist' itu pada dasarnya merupakan pembuktian konsep," ujarnya.
Sementara itu, versi Earth Prize berfokus mengarahkan gagasan menjadi produk praktis yang siap dipasarkan secara luas.
"Jadi, Eco Purge tidak serta-merta menjadi sesuatu yang besar, melainkan berkembang secara bertahap," kata dia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow