Australia Pastikan Tarif Visa Pelajar Indonesia Tidak Naik Jadi AUD 2500

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah Australia menegaskan bahwa kabar mengenai kenaikan tarif visa pelajar bagi warga negara Indonesia menjadi AUD 2.500 adalah tidak benar, dilansir dari Detikcom pada Rabu (15/7/2026).

Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Matt Thistlethwaite, menyatakan dalam wawancara di Kedutaan Besar Australia di Jakarta bahwa penyesuaian tarif hanya mengikuti Indeks Harga Konsumen (CPI) tahunan.

Tarif visa pelajar untuk Indonesia dan negara ASEAN lainnya hanya mengalami penyesuaian kecil dari AUD 2.000 menjadi AUD 2.050, bukan melonjak ke angka AUD 2.500 seperti laporan yang beredar luas.

Selain meluruskan isu visa, Thistlethwaite juga memastikan keberlanjutan program beasiswa Australia Awards untuk tahun 2027 dengan kuota yang tetap tinggi bagi pelajar asal Indonesia.

"Hubungan ekonomi dan sosial antara Australia dan Indonesia sangat kuat. Pendidikan memastikan hubungannya menjadi lebih kuat pada masa depan." ujar Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Thistlethwaite menambahkan bahwa saat ini terdapat 25.000 pelajar Indonesia di Australia yang diproyeksikan menjadi pemimpin masa depan di sektor bisnis pemerintahan.

"Sekarang ada 25.000 pelajar Indonesia yang belajar di Australia. Mereka akan menjadi pemimpin kerajaan dan bisnis di Indonesia." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Pemerintah Australia menyatakan komitmen penuh untuk meningkatkan kolaborasi pendidikan tersebut guna mendukung pertumbuhan ekonomi kedua negara di masa mendatang.

"Mereka akan membuat hubungan dan kolaborasi dengan pelajar-pelajar di Australia yang juga akan memimpin bisnis-bisnis di Australia dan mengambil posisi senior di pemerintahan kami. Jadi, hubungan itu sudah dihidupkan pada tahap pelajar." ucap Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Investasi pendidikan transnasional juga terus digenjot melalui kebijakan "Invested" yang merupakan strategi peningkatan hubungan ekonomi dengan Asia Tenggara.

"Jadi, itu memastikan hubungan ekonomi akan terus berkembang pada masa depan. Jadi, pemerintahan kami dan orang-orang di Australia sangat berkomitmen untuk meningkatkan hubungan pendidikan antara Australia dan Indonesia." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Program Australia Awards tercatat telah melahirkan 200.000 alumni asal Indonesia, termasuk enam anggota kabinet Presiden Prabowo Subianto yang merupakan penerima beasiswa tersebut.

"Ya, kami memiliki kebijakan yang bernama Invested, yang merupakan strategi yang dilakukan oleh pemerintah kami untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan orang-orang antara Indonesia dan seluruh Asia Tenggara. Dan laporan tersebut membuat beberapa rekomendasi dan salah satu dari mereka adalah meningkatkan hubungan pendidikan antara negara kami." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Saat ini sejumlah universitas terkemuka Australia seperti Deakin University dan Monash University sudah beroperasi langsung di Indonesia untuk menyediakan kursus berkualitas.

"Sudah 200.000 orang Indonesia telah belajar di bawah program Australia Awards. Ada 16 anggota kabinet Presiden Prabowo yang telah belajar di Australia. Enam dari mereka telah mendapatkan Australia Awards. Itu adalah contoh yang sangat baik tentang nilai pendidikan." tutur Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Pemerintah Australia terus bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk memperkuat hubungan business-to-business melalui peninjauan perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif dan peluncuran program Katalis 2.0.

"Australia menawarkan pendidikan kepada orang-orang Indonesia dan perusahaan yang dikembangkan melalui pendidikan tersebut. Sekarang kita memiliki universitas Australia yang telah disediakan di Indonesia dan telah memberikan kursus kepada orang-orang Indonesia." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Untuk menjaga konsistensi kualitas pendidikan jarak jauh ini, Badan Standar Kualitas Pendidikan Tinggi Australia (TEQSA) mengawasi langsung kurikulum yang diajarkan.

"Jadi, ada masa depan yang berbeda terhadap hubungan antara Australia dan Indonesia dalam bidang pendidikan." ujar Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

TEQSA memastikan standar kelayakan untuk gelar sarjana, master, hingga PhD yang diselenggarakan di kampus cabang Indonesia sama persis dengan yang ada di Australia.

"Dan salah satu alasan kenapa saya berada di sini adalah untuk bekerja dengan penduduk pemerintah Indonesia untuk memperkuat hubungan tersebut. Kami sedang mereview perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif. Kami telah meluncurkan program Katalis 2.0 untuk memperkuat hubungan business-to-business. Semuanya berdasarkan hubungan pendidikan yang lebih kuat." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Australia bangga atas kualitas pendidikan transnasional yang dihadirkan di Indonesia guna memastikan kesetaraan kompetensi para lulusannya.

"Ya, Australia memuji kualitas pendidikan yang kami tawarkan kepada pelajar, secara domestik di Australia, dan secara transnasional di luar negeri. Malam tadi saya bertemu dengan perwakilan dari Deakin University, dari Monash, yang bekerja di Indonesia untuk memastikan kualitas dan pengetahuan yang berdasarkan pendidikan Australia." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Lembaga TEQSA bertindak independen guna memelihara mutu pengajaran agar mahasiswa di Indonesia mendapatkan konten pembelajaran yang setara.

"Pemerintah kami memiliki organisasi, kami menyebutnya TEQSA (Tertiary Education Quality and Standards Agency/Badan Standar Kualitas Pendidikan Tinggi-badan independen Australia-red) badan jaminan kualitas pendidikan tinggi di Australia, dan itu adalah badan yang menetapkan standar pencapaian pendidikan sebelum seseorang bisa memiliki degree, master, atau PhD, dan mereka memastikan standar kualitas yang tinggi." jelas Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Setiap program joint-degree atau master di luar wilayah Australia diwajibkan memenuhi indikator kelulusan baku yang ketat.

"Kerja mereka (TEQSA) juga diaplikasikan kepada universitas yang beroperasi di Indonesia, jadi itu tidak tergantung pada Australia. Mereka harus memastikan kualitas dalam kursus yang diberikan kepada orang Indonesia. Harusnya sama, seolah-olah mereka menghadiri universitas di Australia. Kursus yang sama, konten yang sama, kualitas yang sama, pengetahuan yang sama tentang dual-joint degree atau master." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Terkait beasiswa tahunan, Australia Awards tetap memprioritaskan alokasi bagi kandidat asal Indonesia karena rekam jejak hubungan yang panjang.

"Tahun lalu, saya pergi ke acara penghargaan Australia Awards, di Sydney Opera House di Sydney Harbour. Saya bertemu dengan para pelajar. Mereka berasal dari Asia Tenggara." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Eksistensi beasiswa yang telah berjalan selama 73 tahun membuktikan tingginya mutu serta jejaring berharga yang terbentuk antar-alumni.

"Ada sejumlah pelajar Indonesia yang belajar dari program tersebut setiap tahun. 200 ribu orang Indonesia telah melalui program Australia Awards. Ini telah terwujud selama 73 tahun." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Pihak kementerian mendorong partisipasi aktif masyarakat Indonesia untuk terus mendaftarkan diri pada program beasiswa ini di masa mendatang.

"Ini (Australia Awards) telah bertahan selama ini karena ini merupakan jaminan kualitas yang sangat baik terhadap hasilnya, pengalaman yang diberikan oleh orang-orang di bawah program beasiswa ini, koneksi yang mereka buat, sangat berharga. Dan Indonesia merupakan salah satu negara partisipan tertinggi Australia Awards, dan kami ingin itu berlanjut ke masa depan. Jadi, 2027, Australia Awards akan berlanjut di Indonesia." tutur Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Walau kuota untuk tahun 2027 dipastikan konisten tanpa penambahan, jumlah kuota dasar bagi Indonesia dinilai sudah menjadi salah satu yang terbesar.

"Kami mendorong sebanyak mungkin orang Indonesia untuk melamar (Australia Awards), untuk datang ke Australia, untuk belajar, untuk bekerja, untuk berhubungan dengan orang-orang di Australia, dan untuk menjalankan posisi pemimpin di Indonesia di masa depan." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Mengenai kekhawatiran kenaikan harga visa, klarifikasi langsung diberikan agar tidak menimbulkan kepanikan bagi calon pendaftar.

"Kuota tetap sama, tapi sudah ada banyak orang Indonesia di bawah program itu. Salah satu peningkatan tertinggi dan kuota tertinggi setiap tahun adalah dari orang Indonesia. Jadi, sudah ada hubungan yang sangat baik, yang sangat kuat, dan itu akan berlanjut ke masa depan." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Kebijakan tarif visa pelajar khusus Indonesia dibedakan dari negara luar ASEAN karena adanya kedekatan diplomatik yang istimewa.

"Saya benar-benar ingin menjelaskan ini, karena saya tahu ada beberapa laporan yang salah. Oh, oke. Ada peningkatan tarif visa di Australia dalam beberapa (kategori) visa, tetapi kami tidak menerapkannya untuk pelajar dari Indonesia." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Kenaikan harga kecil sebatas penyesuaian inflasi tahunan tetap berlaku resmi di angka AUD 2.050.

"Karena hubungan istimewa antara Australia dan Indonesia dan ASEAN lebih luas, peningkatan tarif (visa pelajar) itu tidak akan menerapkannya untuk pelajar di Indonesia. Ada peningkatan harga kecil untuk CPI (Consumer Price Indeks/Indeks Harga Konsumen), yang terjadi setiap tahun di setiap visa. Jadi, harga itu akan berubah dari AUD 2.000 (sekitar Rp 25,2 juta) jadi AUD 2.050 (sekitar Rp 25,9 juta).

Tidak akan mencapai AUD 2.500 (sekitar Rp 31,5 juta), itu adalah laporan yang salah. Jadi, saya benar-benar perlu menjelaskannya" kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Kepastian nominal tarif visa ini dikukuhkan kembali agar menjadi pegangan valid bagi para pemohon visa dari kawasan ASEAN.

"Betul. Untuk pelajar di Indonesia dan ASEAN, kenaikan tarif itu kami tidak akan menerapkannya. Jangan khawatir." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Sementara itu, tarif untuk Working Holiday Visa (WHV) dipastikan naik, namun kuota tahunan sebesar 5.000 slot untuk warga Indonesia dipastikan tidak berubah.

"Ya, tarif Working Holiday Visa akan naik. Tapi Working Holiday adalah program pertukaran budaya. Kita memiliki peningkatan besar dari orang Indonesia." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Australia juga menyetujui usulan implementasi sistem undian elektronik dari Dirjen Imigrasi Kemenimipas Indonesia guna menghapus kewajiban Surat Dukungan (SDUWHV).

"Dan Indonesia memiliki jumlah posisi yang sama di bawah program itu setiap tahun dengan 5.000 setiap tahun untuk orang Indonesia yang sama dengan Tiongkok. Jadi, kuota yang sama setiap tahun akan buat Indonesia. Dan itu adalah pertukaran budaya yang sangat penting." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Penggunaan sistem undian dinilai memberikan keadilan serta peluang yang setara bagi seluruh pendaftar program WHV.

"Direktur Jenderal dari Departemen Pemerintahan (Dirjen Imigrasi Kemenimipas-red) Anda juga menyarankan sistem undian untuk membuat sistem lebih adil dan untuk menghilangkan kebutuhan untuk surat dukungan juga. Kami pikir itu adalah rekomendasi yang cocok dan kami sedang mencari implementasi usulan sistem undian itu untuk menghilangkan kebutuhan surat dukungan (Surat Dukungan untuk Work and Holiday Visa/SDUWHV). Itu akan menghilangkan beberapa hambatan yang kita miliki dalam sistem dan membuat sistem jauh lebih adil." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Sistem ini tengah dipersiapkan secara elektronik oleh kementerian terkait dan tanggal rilisnya akan diumumkan segera.

"Karena semua orang akan masuk ke sistem undian. Semua orang akan memiliki peluang yang sama untuk memohon dan menerima salah satu dari kuota 5.000 itu." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Dukungan resmi terhadap penyederhanaan birokrasi imigrasi Indonesia ini diharapkan mempercepat mobilitas pertukaran budaya antar-negara.

"Ya, kami mendukung usulan yang disarankan oleh Direktur Jenderal Anda." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Pemerintah Australia menyatakan pembuatan sistem berbasis elektronik membutuhkan ketelitian agar proses seleksi berjalan transparan.

"Membuat sistem undian membutuhkan waktu. Sistem undian akan elektronik agar adil. Dan Departemen Pemerintahan kami sekarang sedang mengimplementasikan itu." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Pemberitahuan resmi mengenai jadwal operasional sistem undian baru akan dibagikan kepada publik Indonesia setelah seluruh infrastruktur siap.

"Saya tidak bisa memberi Anda jadwal tertentu pada saat ini. Tapi segera kami akan informasikan kepada Indonesia tentang perubahan itu. Kami akan memberikan tanggalnya saat sistem baru akan dimasukkan. Jadi nanti akan jadi perhatian dan orang akan dapat bersiap-siap untuk sistem yang baru." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Sebagai tambahan, Australia baru saja meluncurkan visa bisnis lima tahun untuk kunjungan kerja singkat bagi warga negara Indonesia.

"Ya, terima kasih banyak atas penyambutan saya di negara indah Anda. Hubungan dan warna hubungan ini jelas dari kunjungan saya di sini selama tiga hari terakhir. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada banyak orang Indonesia yang berkembang ke Australia untuk belajar dan bekerja." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Hubungan bilateral ini diperkuat dengan fakta bahwa Indonesia, khususnya Bali, tetap menjadi destinasi wisata utama bagi sekitar 1,5 juta pelancong Australia per tahun.

"Kami baru saja memperkenalkan visa bisnis baru selama lima tahun untuk orang Indonesia yang datang ke Australia untuk bekerja dengan waktu yang sangat pendek. Dan tentu saja, Indonesia merupakan destinasi liburan favorit bagi orang Australia, dengan sekitar 1,5 juta orang Australia yang berkunjung ke Bali setiap tahun. Ini adalah hubungan yang kami hargai dan ini akan berjalan semakin kuat dari waktu ke waktu." kata Matt Thistlethwaite, Asisten Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow