Tiga Lulusan Kedokteran UGM Raih IPK Sempurna pada Wisuda Mei 2026
Tiga wisudawan Program Studi Kedokteran Universitas Gadjah Mada berhasil mempertahankan indeks prestasi kumulatif sempurna senilai 4,00 hingga hari kelulusan mereka pada Kamis, 21 Mei 2026.
Para peraih nilai tertinggi tersebut adalah Tegar Rinang Pratama, Kharisa Rasikhatul Hikmah, dan Ashifa Jasmine yang menerima gelar Sarjana Kedokteran di Grha Sabha Pramana UGM, dilansir dari Detikcom.
Pencapaian ini diraih melalui dedikasi tinggi, meskipun salah satu wisudawan bernama Tegar Rinang Pratama mengaku bahwa dirinya tidak pernah menargetkan perolehan IPK sempurna sejak awal masa perkuliahan.
"Kalau aku let it flow aja nanti pada akhirnya bagaimana, ikuti alur aja," ujar Tegar Rinang Pratama, wisudawan asal Yogyakarta tersebut.
Tegar menerapkan pola belajar yang terstruktur dengan mencicil materi seminggu sebelum ujian, memanfaatkan waktu luang di perpustakaan, serta menyusun peta materi harian.
"Biasanya untuk H-1 itu aku sudah tidak boleh lagi belajar materi, karena prinsipku pada saat H-1 itu aku harus sudah menguasai semua materi," tutur Tegar Rinang Pratama.
Di samping fokus akademik, Tegar juga aktif memanfaatkan waktu libur semester untuk mengikuti berbagai kepanitiaan dan kegiatan sukarelawan di luar lingkungan kampus.
"Aku bisa ikut dua sampai tiga kepanitiaan sementara ketika libur semester. Seperti ikut kepanitiaan Yogyakarta Gamelan Festival, Jogja Fashion Week, asisten lapangan Bulog, dan ikut menjadi LO (liaison officer) pada acara Kirab Budaya," jelas Tegar Rinang Pratama.
Sementara itu, kisah berbeda datang dari Kharisa Rasikhatul Hikmah yang memantapkan tekadnya untuk belajar maksimal demi menyelamatkan nyawa orang lain meskipun menjadi dokter pertama di keluarganya.
"Yang paling penting adalah di sini aku belajar banyak hal karena nanti akhirnya aku bakal ke profesiku yang menyangkut nyawa hidup orang banyak," kata Kharisa Rasikhatul Hikmah.
Kharisa menerapkan strategi kuliah dengan mengenali batas kemampuan diri serta menyusun skala prioritas karena menyadari dirinya bukan tipe mahasiswa yang dapat melakukan banyak aktivitas sekaligus.
"Aku merasa bahwa aku bukan tipe orang yang bisa multitasking, yang bisa melakukan banyak hal. Jadi memang aku harus tahu batas kemampuanku sampai mana," ujar Kharisa Rasikhatul Hikmah.
Wisudawan ketiga, Ashifa Jasmine, memilih jalur kedokteran karena memiliki pengalaman masa kecil yang sering mengunjungi rumah sakit akibat penyakit kronis sehingga memicu keinginannya untuk menolong sesama.
"Aku ingat bagaimana saat aku sakit aku merasa sangat terbantu dengan dokter dan tenaga kesehatan. Jadi aku juga ingin memberikan impact yang sama ke orang lain melalui bidang kesehatan," kata Ashifa Jasmine.
Perjalanan akademis Ashifa tidak luput dari tantangan berupa tekanan ekonomi, namun ia memilih untuk tetap fokus pada usaha yang bisa ia kendalikan sendiri.
"Yang bisa aku kontrol adalah usahaku sendiri. Jadi aku fokus belajar dan melakukan apa yang bisa aku lakukan," ujar Ashifa Jasmine.
Motivasi besar juga datang dari sang ibu yang senantiasa mendampingi dan mengajarkan Ashifa untuk tidak takut menghadapi kegagalan dalam mengambil setiap kesempatan.
"Ibuku yang selalu mendorong aku, kalau misalnya ada suatu kesempatan, ambil aja gitu. Tidak perlu takut untuk mencoba, tidak perlu takut untuk kalah, gagal, itu hal yang biasa," tutur Ashifa Jasmine.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow