UHN I Gusti Bagus Sugriwa Ungkap Refleksi Moral Kitab Dronaparwa bagi Siswa

Smallest Font
Largest Font

Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar memaparkan hasil kajian mendalam mengenai nilai-nilai moral dalam Kitab Dronaparwa pada Kamis (2/7/2026). Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya teks sastra epik Mahabharata tersebut sebagai sarana pembentukan karakter luhur bagi generasi muda di lingkungan pendidikan.

Kitab Dronaparwa merupakan bagian atau parwa ketujuh dari total 18 seri Astadasaparwa dalam keseluruhan epik Mahabharata. Secara garis besar, bagian ini memuat kisah dramatis mengenai diangkatnya Bagawan Drona sebagai panglima perang tertinggi bagi pasukan Korawa pada hari ke-11 dalam pertempuran besar di Kurukshetra atau Bharatayuddha.

Kajian akademis ini menyoroti bagaimana teks klasik dapat ditransformasikan menjadi materi pembelajaran moral yang relevan bagi tantangan zaman sekarang. Sastra Hindu kuno tidak sekadar dipandang sebagai dongeng masa lalu, melainkan sebagai pedoman pembentukan kepribadian.

Nilai-Nilai Pembentukan Kepribadian

Peneliti dari UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Kadek Ardika, menyatakan dalam penelitiannya bahwa cerita Udyoga, Bhisma, dan Drona Parwa mengandung berbagai refleksi pembelajaran moral bagi siswa. Implementasi ajaran ini dinilai sangat efektif untuk membentuk kepribadian Suputra atau anak yang mulia.

"Cerita Udyoga, Bhisma, dan Drona Parwa mengandung berbagai refleksi pembelajaran moral bagi siswa untuk membentuk kepribadian Suputra, seperti nilai kesetiaan, kompromi, keikhlasan, kerendahan hati, dan konsisten membela kebenaran."

Struktur 18 Parwa Mahabharata

Sebagai bagian dari teks suci yang masif, Dronaparwa berdiri bersama jajaran kitab lainnya yang menyusun keutuhan epik Mahabharata. Urutan seri ini menggambarkan kronologi lengkap dinamika kehidupan para ksatria dan brahmana.

Berikut adalah daftar lengkap 18 parwa dalam tradisi sastra Mahabharata:

  • Ādiparva, Sabhāparva, dan Vānaparva
  • Virātaparva, Udyogaparva, dan Bhismaparva
  • Droņaparva, Kamaparva, dan Šalyaparva
  • Sauptikaparva, Striparva, dan Sāntiparva
  • Anusāsanaparva, Aśvamedhikaparva, dan Aśramaväsikaparva
  • Mausalaparva, Mahäprasthänikaparva, dan Svargārohanaparva
Guru Besar Para Ksatria yang Dihancurkan oleh Sumpah dan Kebenaran Palsu | SWASTIKA Channel

Latar Belakang dan Asal-Usul Guru Drona

Narasi dalam Dronaparwa tidak terlepas dari silsilah dan dinamika masa lalu sang tokoh utama sebelum berkecamuk di medan laga Bharatayuddha. Kisah hidupnya dipenuhi dengan perjuangan kelas sosial dan keteguhan dalam menuntut ilmu.

Drona lahir dalam keluarga brahmana (kaum pendeta Hindu) sebagai putra dari pendeta Bharadwaja. Proses kelahirannya terbilang sakral karena terjadi di luar rahim manusia, di mana air mani ayahnya ditampung dan kemudian berkembang di dalam sebuah pot atau guci tanah liat.

Nama kota Dehradun yang dikenal saat ini merupakan wujud modifikasi dari kata dehra-dron yang secara harfiah memiliki arti guci tanah liat. Setelah beranjak dewasa, Drona menikahi Krepi yang merupakan adik dari Krepa, guru keraton di Hastinapura, dan dikaruniai seorang putra bernama Aswatama.

Konflik Sosial dan Penguasaan Ilmu Militer

Masa muda sang guru besar dipenuhi dinamika hubungan sosial yang keras dengan penguasa, yang nantinya turut melatarbelakangi alasan taktis pertempuran besar antarsaudara tersebut.

Perseteruan dengan Raja Drupada

Drona menghabiskan masa mudanya dalam kemiskinan yang pekat dan sempat belajar ilmu militer bersama Pangeran Drupada dari Kerajaan Panchala. Pada masa itu, Drupada berjanji akan memberikan setengah kerajaannya kepada Drona saat ia naik takhta menjadi raja kelak.

Namun, setelah menjadi penguasa, Drupada mengingkari janji tersebut karena mabuk kekuasaan dan merasa status sosial mereka sudah jauh berbeda. Drupada bahkan menolak mentah-mentah hubungan pertemanan masa lalu mereka.

"Persahabatan, adalah mungkin jika hanya terjadi antara dua orang dengan taraf hidup yang sama."

Pendidikan Militer dari Parasurama

Setelah menghadapi penolakan keras dari Drupada, Drona melanjutkan pencarian ilmu dan takdirnya ke tingkat yang lebih tinggi. Ia berhasil mendapatkan pengetahuan ilmu peperangan tertinggi dari Parasurama.

Hubungan guru dan murid ini terjadi setelah Parasurama kehabisan seluruh harta benda untuk dibagikan kepada brahmana lain. Parasurama merasa tersentuh oleh kesanggupan serta keteguhan hati Drona, sehingga memutuskan untuk mewariskan seluruh keahlian senjata dan strategi militer kepadanya.

Kajian komprehensif mengenai teks sastra Dronaparwa ini diharapkan dapat terus diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di Indonesia.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed