VOC Tundukkan Kerajaan Gowa Melalui Penandatanganan Perjanjian Bongaya Imbas Rentetan Kekalahan Militer
Aliansi militer Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC bersama kekuatan sekutunya resmi menundukkan Kerajaan Gowa melalui penandatanganan Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Kesepakatan politik dan militer berat sebelah ini dipaksakan setelah benteng-benteng pertahanan utama Makassar runtuh beruntung dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.
Kekalahan beruntun yang dialami oleh armada Sultan Hasanuddin menjadi pemicu utama mengapa terjadi perjanjian bongaya di penghujung tahun 1667 tersebut. Berdasarkan laporan historis, kekuatan militer Gowa melemah drastis setelah menghadapi gempuran gabungan dari pasukan Belanda, Bone, Buton, dan Ternate yang dipimpin oleh Cornelis Speelman dan Arung Palakka.
Rentetan kejatuhan basis pertahanan Makassar terjadi secara kronologis sepanjang paruh kedua tahun 1667. Gabungan pasukan VOC dan sekutu lokalnya berhasil merebut titik-titik krusial yang melumpuhkan kemampuan perang Kerajaan Gowa di tanah Sulawesi.
Kronologi Kejatuhan Benteng Pertahanan Gowa
Latar belakang perjanjian bongaya gowa voc ini tidak lepas dari rentetan operasi militer berskala besar yang dilancarkan sejak tahun 1666, ketika VOC memutuskan menyerang Kerajaan Gowa dengan mengerahkan 21 kapal perang utama.
Kejatuhan Benteng Galesong dan Barombong
Arung Palakka yang memimpin pergerakan pasukan darat berhasil merebut Benteng Galesong pada 22 Agustus 1667. Pertempuran sengit di wilayah ini menelan korban jiwa hingga 1.000 orang dari pihak Kerajaan Gowa.
Satu bulan berselang, tepatnya pada 22 September 1667, Benteng Barombong juga jatuh dan dikuasai oleh gabungan kekuatan Belanda, Bone, Buton, dan Ternate, yang membuat posisi Sultan Hasanuddin semakin terdesak.
Kehancuran Benteng Panakkukang
Pukulan terakhir terjadi pada 7 November 1667 ketika Arung Palakka bersama Speelman melancarkan serangan mendadak yang berhasil menghancurkan Benteng Panakkukang. Kehilangan benteng pertahanan terakhir ini memaksa Sultan Hasanuddin untuk menerima jalur diplomasi.
Berikut adalah lini masa pertempuran krusial yang melatarbelakangi runtuhnya pertahanan Gowa hingga penandatanganan kesepakatan di Bongaya:
- Tahun 1660: Pemberontakan awal Arung Palakka bersama 10.000 pasukannya mengalami kegagalan, disusul serangan VOC yang memaksa perjanjian damai sementara.
- Tahun 1666: VOC mengerahkan kekuatan penuh sebanyak 21 kapal perang untuk menghancurkan dominasi perdagangan Makassar.
- 22 Agustus 1667: Benteng Galesong jatuh ke tangan sekutu dan mengakibatkan 1.000 orang pasukan Gowa gugur.
- 22 September 1667: Benteng Barombong direbut oleh aliansi gabungan empat kekuatan militer.
- 7 November 1667: Serangan pamungkas Arung Palakka dan Speelman berhasil menguasai Benteng Panakkukang.
- 18 November 1667: Perjanjian Bongaya resmi ditandatangani di wilayah Bongaya.
Isi dan Klausul Perjanjian Bongaya
Berdasarkan catatan sejarah perjanjian bongaya, dokumen kesepakatan yang dikenal sebagai Bongaisch Tractat ini memuat total 30 pasal yang melingkupi restrukturisasi total masalah militer, politik, dan ekonomi di wilayah Sulawesi Selatan.
Dari seluruh draf yang disodorkan oleh Speelman, sebanyak 24 pasal di antaranya terbukti secara langsung hanya menguntungkan pihak VOC dan merugikan kedaulatan Makassar. Salah satu klausul yang paling memberatkan adalah kewajiban pembayaran ganti rugi perang dalam jumlah yang sangat besar.
Pemerintah Kerajaan Gowa diwajibkan membayar biaya kerugian perang sebesar 250.000 rijksdaalders kepada VOC, yang harus dilunasi dalam jangka waktu lima musim berturut-turut secara penuh.
Rincian pembagian dampak dan penguasaan pasal-pasal di dalam perjanjian tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
| Kategori Klausul | Jumlah Pasal | Pihak yang Diuntungkan |
|---|---|---|
| Klausul Pro-Monopoli VOC | 24 | VOC / Belanda |
| Klausul Regulasi Wilayah & Militer Sekutu | 6 | Aliansi Arung Palakka (Bone, Buton, Ternate) |
| Total Keseluruhan Pasal | 30 | Blok Sekutu VOC |
Dampak Struktural terhadap Peta Politik Sulawesi
Bagi publik yang kerap melontarkan pertanyaan mengenai "siapa yang menandatangani perjanjian bongaya", dokumen ini secara resmi disahkan oleh Sultan Hasanuddin dari pihak Gowa dan Cornelis Speelman dari pihak VOC beserta para pemimpin sekutu lokal.
Akibat perjanjian bongaya bagi kerajaan gowa berujung pada keruntuhan total hegemoni maritim yang telah dibangun sejak abad sebelumnya. Penandatanganan ini sekaligus menandai kegagalan total setelah sebelumnya pada tahun 1633 perlawanan pertama rakyat Makassar terhadap blokade perdagangan VOC juga sempat kandas.
Kondisi pasca-perjanjian memaksa Gowa melepaskan seluruh hak monopoli perdagangan rempah-rempah dan mengakui kemerdekaan daerah-daerah taklukan lama mereka, termasuk memulihkan posisi Arung Palakka yang sebelumnya sempat gagal memimpin pemberontakan bersama 10.000 orang Bugis pada tahun 1660.
Implementasi dari 30 pasal Perjanjian Bongaya ini menandai dimulinya era baru dominasi absolut kompeni Belanda di jalur perdagangan Indonesia bagian timur, sekaligus membatasi ruang gerak diplomasi politik Kerajaan Gowa secara permanen.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow