Yesita Vera Saraswati Raih Gelar Doktor Termuda UGM Usia 27 Tahun

Smallest Font
Largest Font

Yesita Vera Saraswati berhasil meraih gelar doktor dari Program Studi Ilmu Peternakan Universitas Gadjah Mada pada usia 27 tahun. Capaian tersebut menjadikannya sebagai lulusan doktor termuda UGM pada periode wisuda ini, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Rabu (29/7/2026).

Rata-rata usia lulusan doktor pada periode yang sama, termasuk puluhan lulusan periode sebelumnya, berada di angka 42 tahun. Selain menjadi wisudawan termuda, Yesita menuntaskan pendidikan S3 tersebut dengan raihan IPK 3,99.

Perjuangan menempuh studi S3 ini menguras banyak tenaga, biaya, emosi, dan waktu. Saat menyelesaikan tugas akhir, Yesita juga harus mengelola puluhan mahasiswa S1 dan S2 yang melakukan penelitian bersama.

"Rasanya luar biasa. Ada perasaan lega ketika segala sesuatu yang dulunya terasa sangat berat akhirnya terbayar setelah lulus," ungkap Yesita.

Pengelolaan tim di laboratorium menjadi tantangan tersendiri selama proses penyusunan disertasi. Kendati demikian, tanggung jawab akademik pribadi tetap harus dituntaskan secara bersamaan.

"Dinamikanya tidak hanya pada diri saya sendiri, tetapi bagaimana saya melakukan manajerial tim dari berbagai laboratorium, sementara di sisi lain saya juga harus tetap menyusun disertasi untuk keperluan studi pribadi saya," tutur Yesita.

Keberhasilannya meraih gelar doktor di usia muda tidak lepas dari keikutsertaannya dalam program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Program percepatan S2 hingga S3 di Fakultas Peternakan UGM tersebut diambilnya di tengah masa pandemi Covid-19.

"Sebenarnya saya tidak kepikiran sebelumnya karena waktu itu masih masa Covid. Akhirnya saya melanjutkan S2 dan S3 melalui program PMDSU di Fakultas Peternakan UGM," jelas Yesita.

Gelar doktor tersebut diraih melalui disertasi berjudul "Studi Karakteristik Eksterior dan Genetik Ayam Lokal dan Persilangannya". Penelitiannya berfokus pada pengkajian potensi genetik dan perbaikan mutu genetik ayam lokal di Indonesia.

"Jadi kami berusaha untuk melakukan perbaikan mutu genetik ayam lokal melalui persilangan dan seleksi sampai saat ini sudah mencapai generasi kelima," jelas Yesita.

Proses penelitian itu diwarnai berbagai tantangan teknis seperti metode trial dan error saat mengawinkan serta menyilangkan ayam. Pengalaman tersebut melatih kemampuannya dalam manajemen waktu, pengelolaan tim, hingga pencarian pendanaan.

"Jadi saya bisa belajar bagaimana memanajemen waktu sekaligus orang-orang yang bergabung di dalam tim, sembari juga tetap menjalin relasi dan mencari pendanaan dan sebagainya," ungkap Yesita.

Di luar aktivitas akademis dan penelitian, Yesita tetap aktif dalam kegiatan organisasi kampus, kesenian, hingga pembuatan publikasi dan hak cipta. Keseimbangan antara studi dan interaksi sosial menjadi prinsip yang dipegangnya selama berkuliah.

"Bagi saya, di samping studi, kita harus tetap menjalin relasi sosial yang baik dengan orang lain dan menyeimbangkan kesenangan agar hidup tetap seimbang," ungkap Yesita.

Setelah menyelesaikan studi S3, Yesita memiliki cita-cita untuk menjadi seorang dosen. Keinginan mengajar tersebut sudah muncul sejak ia duduk di bangku SMA.

"Bagi saya, pembelajaran tidak akan pernah putus meskipun sudah menyelesaikan jenjang S3," tutup Yesita.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow