Annita Nirmala Dewi Berlayar 13 Hari ke Pulau Sehat
Suara mesin kapal terdengar nyaris sepanjang perjalanan ketika Annita Viesta Nirmala Dewi, S Tr Keb, MPH berlayar puluhan jam untuk mengikuti misi bertajuk “Deteksi Dini dan Upaya Promotif, Preventif, dan Kuratif Menuju Pulau Sehat, Produktif, dan Bahagia”. Berangkat bersama Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga, alumni Kebidanan Fakultas Kedokteran UNS itu menempuh pelayaran selama 13 hari.
Misi yang ia jalani membawa tim menyapa Bluto, Pulau Raas, Pulau Karamian, dan Pulau Masalembu. Di sela jadwal layanan, Annita menyerap detail keseharian yang ditemui: bukan hanya kebutuhan medis, tetapi juga cara masyarakat menyambut dan menerima edukasi kesehatan.
Setibanya di pulau: akses air bersih dan listrik terbatas
Saat tim mendarat, situasi yang ditemukan berulang di beberapa lokasi. Sejumlah pulau masih memiliki akses air bersih yang terbatas. Aliran listrik, menurut laporan perjalanan misi, hanya menyala pada malam hari dengan bantuan generator diesel. Meski serba terbatas, masyarakat tetap menyambut kedatangan tim dengan hangat.
Annita melihat bahwa keterbatasan fasilitas tidak otomatis mengurangi semangat warga. Dalam suasana yang bergerak cepat, pelayanan kesehatan dan edukasi berjalan dengan cara yang menyesuaikan kondisi setempat.
Layanan kesehatan di setiap lokasi: triase hingga antropometri
Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga membawa tim yang memberikan pelayanan kesehatan kepada sekitar 120–160 pasien di setiap lokasi. Annita ikut dalam proses triase serta pengukuran antropometri untuk mendukung kelancaran layanan.
Di tengah arus pasien yang datang bergelombang, triase menjadi pintu awal: memetakan kebutuhan, menentukan prioritas penanganan, lalu mengarahkan pasien ke pemeriksaan lanjutan. Pada tahap pengukuran antropometri, Annita berperan untuk melengkapi data yang membantu layanan berjalan lebih tepat.
Edukasi kesehatan untuk ratusan remaja
Tak hanya pasien dewasa atau anak, tim juga menyelenggarakan edukasi kesehatan bagi remaja. Total ada 410 remaja yang mengikuti kegiatan, dengan rincian sekitar 130 peserta di Bluto, 140 peserta di Pulau Raas, 80 peserta di Pulau Karamian, dan 60 peserta di Pulau Masalembu.
Bagi Annita, angka-angka itu bukan sekadar laporan jumlah. Ia mencatat perbedaan suasana belajar dan respons peserta yang muncul antar-pulau.
Metode edukasi perlu menyesuaikan karakter masyarakat
Selain pengamatan selama proses layanan, Annita menuturkan bahwa setiap pulau memberikan pengalaman yang berbeda. Remaja di Pulau Raas tampak lebih pendiam, sedangkan remaja di Pulau Karamian lebih aktif berdiskusi. Di Pulau Masalembu, beberapa peserta bahkan secara sukarela maju untuk memerankan skenario dalam kegiatan role play.
Perbedaan itu membuat Annita menyadari pentingnya menyesuaikan metode edukasi dengan karakter masyarakat setempat, agar pesan kesehatan lebih mudah masuk dan dipahami.
“Saya percaya bahwa remaja harus dijaga agar terus berdaya dan sejahtera, sebab mereka merupakan tonggak keberlangsungan suatu bangsa,” terang Annita dalam laman UNS dikutip Rabu (5/8/2026).
Pengalaman berinteraksi dengan remaja di berbagai pulau juga membentuk cara Annita memandang tujuan edukasi: bukan hanya menyampaikan materi, melainkan membangun ruang agar peserta berani bertanya dan terlibat.
Yang paling membekas: mimpi besar di tengah keterbatasan
Hal yang paling membekas bagi Annita adalah pertemuan dengan remaja-remaja yang membawa mimpi besar. Banyak dari mereka ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Antusiasme saat berdiskusi, bertanya, dan mengikuti setiap sesi edukasi membuat Annita percaya bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus bermimpi.
Dalam perjalanan yang memakan waktu dan melewati banyak lokasi, momen-momen seperti itu terasa menonjol—ketika semangat peserta hadir bersamaan dengan pesan kesehatan yang disampaikan tim.
“Saya belajar bahwa setiap daerah memiliki kebutuhan dan cara belajar yang berbeda. Ketika kita mau mendengarkan dan menyesuaikan pendekatan, pesan kesehatan menjadi lebih mudah diterima. Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa menjadi tenaga kesehatan bukan hanya tentang memberikan pelayanan, tetapi juga membangun kepercayaan dan tumbuh bersama masyarakat,” tuturnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow