Suku Stillaguamish Banjiri Lahan Pertanian Demi Selamatkan Ikan Salmon Chinook
Sebuah langkah tidak biasa diambil oleh Suku Stillaguamish di Amerika Serikat setelah mereka membeli ratusan hektare lahan pertanian. Seperti dikutip dari Detikcom, komunitas ini memilih untuk membanjiri kembali kawasan produktif tersebut.
Keputusan besar ini diwujudkan dengan menghancurkan tanggul tanah yang telah memisahkan aliran air sungai dan air laut selama lebih dari satu abad. Kini, air pasang dapat mengalir bebas ke wilayah itu.
Dampaknya, area seluas kurang lebih 230 hektare yang sebelumnya menjadi lokasi peternakan sapi kini bertransformasi. Wilayah tersebut kembali berubah fungsi menjadi rawa pasang surut yang sangat luas.
"Dulu ini adalah peternakan sapi perah, dan sekarang menjadi rawa pasang surut yang luas," kata Scott Boyd, anggota suku sekaligus pengelola perikanan.
Restorasi lanskap masif ini sengaja dilakukan demi memulihkan habitat alami ikan salmon Chinook yang statusnya kini terancam punah. Lingkungan rawa pasang surut memegang peran krusial sebagai tempat pembesaran alami ikan muda.
Kondisi populasi salmon di kawasan tersebut memang mengalami penurunan yang sangat drastis dalam beberapa dekade terakhir akibat rusaknya ekosistem asli. Krisis ini sempat mencapai titik terendah pada tahun 2025.
Pada tahun tersebut, jumlah ikan salmon Chinook yang kembali menuju Sungai Stillaguamish sangat sedikit. Akibatnya, seluruh anggota komunitas suku hanya diperbolehkan menangkap total 26 ekor ikan saja.
"Salmon selalu penting bagi masyarakat kami, bagi suku kami, bagi cara hidup kami," ujar Boyd.
Proses kembalinya fungsi alami dataran banjir dan aliran sungai ini mulai menunjukkan hasil positif. Kawasan yang awalnya sempat mati kini mulai didatangi kawanan burung dan membentuk saluran air baru.
Langkah pemulihan ini juga memiliki nilai sejarah mendalam bagi Suku Stillaguamish. Mereka sempat kehilangan sebagian besar tanah leluhur setelah menyepakati sebuah perjanjian dengan pemerintah Amerika Serikat pada tahun 1855.
Demi memperbaiki alam yang rusak, komunitas adat ini harus membeli kembali tanah historis mereka. Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, pihak suku tercatat telah mengakuisisi sekitar 2.000 hektare lahan.
Selama pengerjaan proyek konservasi, tim di lapangan bahkan menemukan sisa-sisa peninggalan cangkang kerang purba. Struktur arkeologis tersebut diperkirakan telah berusia hingga 1.500 tahun di dalam tanah.
Intervensi lingkungan dengan membiarkan pergerakan lumpur, aliran air, dan vegetasi alami terbukti membuahkan hasil nyata. Wilayah pertanian kuno tersebut kini sukses bertransformasi menjadi ekosistem baru yang sangat dinamis.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow