Gen Z Hadapi Pengangguran, Sektor Pertanian Buka Lahan Kerja Baru
Tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 15 hingga 24 tahun atau Gen Z di Indonesia menembus angka 17,37 persen. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional BPS per Mei 2026 yang dilansir dari Detikcom, angka tersebut jauh melampaui kelompok usia 25 sampai 29 tahun yang hanya sebesar 2,56 persen. Fenomena sulitnya anak muda mendapatkan pekerjaan ini juga menjadi tren global.
Selain karena pergeseran nilai-nilai pekerjaan, pesatnya perkembangan kecerdasan buatan turut memperketat persaingan karena menggantikan posisi tingkat pemula. Di tengah tantangan teknologi, bidang pertanian justru menyimpan potensi pertumbuhan yang besar di masa depan. Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum memperkirakan sektor pertanian mampu menciptakan 35 juta lapangan kerja tambahan pada 2030.
Meski memegang angka lonjakan lapangan kerja terbesar, krisis generasi muda menghantui bidang ini. Data WEF mencatat kurang dari 1 dari 20 petani di dunia yang berusia di bawah 35 tahun akibat anggapan bahwa pertanian adalah profesi kuno.
Sektor ini juga menghadapi tantangan degradasi tanah, kerusakan lahan, cuaca ekstrem, dan biaya perawatan yang membengkak. Kebutuhan pangan yang terus melonjak seiring pertumbuhan populasi dan tren makanan organik menjadi pendorong utama bertahannya sektor ini.
Sentuhan Teknologi Ubah Wajah Pertanian Modern
Kehadiran teknologi mutakhir seperti sensor pintar, peralatan presisi, hingga model tanaman berbasis AI mentransformasi sistem pertanian menjadi lebih efektif. Integrasi teknologi, ilmu pengetahuan, dan kewirausahaan menjadikan profesi ini berpeluang besar bagi Gen Z. Anak muda di China menjadi salah satu kelompok yang mulai merespons peluang tersebut. Mereka menerapkan pendekatan modern untuk mengelola lahan pertanian di daerah asalnya.
Penggunaan inovasi teknologi terbukti memangkas waktu kerja dan meningkatkan efisiensi secara signifikan. Pemfaatan drone penyemprot pupuk mampu menggantikan efisiensi kerja manual secara masif. "Sebuah drone dapat menyebarkan dua ton pupuk hanya dalam waktu sehari, sementara pekerjaan yang sama dulunya membutuhkan tiga orang selama empat hingga lima hari," kata Wang Huan (21), petani asal Kabupaten Yicheng, Provinsi Shanxi.
Daya Tarik Pertanian Cerdas bagi Lulusan Perguruan Tinggi
Penggunaan mesin pemanen otomatis, mesin penanam benih, serta pengepak jerami menarik minat para lulusan kampus di China untuk kembali ke desa. Fasilitas modern pada alat berat juga semakin menunjang kenyamanan kerja para petani muda.
"Mesin pertanian semakin canggih, dengan kabin ber-AC dan kontrol yang lebih mudah digunakan. Hal ini membuat lingkungan kerja jauh lebih baik," kata Ding Zehui dari Kabupaten Wanrong, Provinsi Shanxi. Tingkat mekanisasi komprehensif untuk budidaya hingga panen tanaman di China saat ini telah melampaui 75 persen.
Kehadiran pertanian cerdas memberikan kepuasan tersendiri bagi para pengembangnya. "Ketika Anda melihat hamparan gandum yang siap panen setelah seharian bekerja keras, tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan rasa pencapaian tersebut," ujar Ding.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow