ITB Kembangkan Geolini Seismometer Digital Berbasis IoT Deteksi Gempa Filipina
Inovasi seismometer digital berbasis teknologi Internet of Things (IoT) bernama Geolini berhasil dikembangkan oleh Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB). Alat buatan Kelompok Keahlian (KK) Geofisika Global Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ini memiliki keunggulan mumpuni dalam merekam getaran gempa bumi hingga jarak ribuan kilometer, sebagaimana dikutip dari Detikcom.
Geolini dirancang khusus untuk memantau gelombang seismik lokal maupun getaran mikroseismik, yang mencakup aktivitas kegempaan terinduksi, tektonik, hingga vulkanik. Selain itu, perangkat presisi ini dapat diaplikasikan pada pemantauan getaran akibat perekahan hidraulis (hydraulic fracturing) yang memerlukan rentang dinamis luas serta resolusi tinggi.
Pengembangan Geolini versi 2 (V.2) yang dimulai sejak 2020 ini telah mengusung sistem nirkabel berbasis IoT. Perangkat ini memungkinkan pengamatan dan pemantauan data kegempaan secara langsung dari jarak jauh.
Proses perekaman data diawali dari tiga sensor geophone yang bertugas menangkap sinyal getaran tanah. Selanjutnya, papan elektronik digitizer buatan tim peneliti bertugas mengonversi sinyal analog tersebut menjadi data digital sekaligus mengatur sistem sinkronisasi waktu memakai GPS.
"Data yang telah diolah kemudian dikirimkan secara nirkabel melalui modul komunikasi dan antena," kata salah satu inovator Geolini, Dr Ir Zulfakriza, S Si, M T.
Uji Coba Deteksi Gempa Jarak Jauh
Saat diuji coba pada stasiun seismograf Teknik Geofisika Kampus Jatinangor bersama perangkat serupa buatan luar negeri, Geolini menunjukkan performa yang setara. Perangkat buatan dalam negeri ini terbukti mampu merekam sinyal gelombang gempa yang berpusat jauh di Filipina.
Zulfakriza menjelaskan bahwa rekaman seismogram dari Geolini secara presisi menangkap dua fase utama kegempaan, yakni gelombang primer (P) yang datang lebih cepat serta gelombang sekunder (S).
"Terlihat bahwa konsistensi rekaman pas kejadian gempa, fase gelombang P dan fase gelombang S untuk alat yang kita kembangkan, Geolini, dan brand yang lain itu konsisten merekam," ujar Zulfakriza.
Kolaborasi Riset dan Kemandirian Teknologi
Proyek pengembangan alat ini digawangi oleh Dr Ir Zulfakriza bersama Prof Dr Sc Ir Andri Dian Nugraha, S Si, M Si. Keduanya berkolaborasi aktif dengan sejumlah mahasiswa Teknik Geofisika ITB dari jenjang sarjana hingga doktor.
Mahasiswa S3 Aditya Lesmana dan mahasiswa S1 Piero Epan berperan langsung dalam operasional lapangan serta pemasangan stasiun seismik temporer. Sementara itu, mahasiswa S2 Fera Gusyifa dan mahasiswa S1 Colin Seima bertugas mengelola proses kontrol kualitas (QC) serta analisis data digital.
"Peran kami adalah melakukan QC terhadap data yang diambil dari lapangan untuk selanjutnya diolah agar kita bisa melihat hasilnya seperti apa," tutur Fera.
Hadirnya Geolini V.2 diproyeksikan dapat menekan tingkat ketergantungan Indonesia pada impor alat pemantau gempa. Instrumen ini tercatat telah teruji pada sektor eksplorasi migas serta lapangan panas bumi, dan Prof Andri Dian menyampaikan bahwa Geolini kini siap diproduksi secara massal melalui platform Ganesa Connection.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow