Mahasiswa UB Ciptakan Rompi Pintar ADAPT-V untuk Penanganan Tantrum ASD

Smallest Font
Largest Font

Lima mahasiswa Universitas Brawijaya menciptakan inovasi wearable berupa rompi pintar bernama ADAPT-V yang berbasis Deep Pressure Therapy untuk menangani tantrum anak dengan Autism Spectrum Disorder. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detikcom pada Rabu (26/8/2026), inovasi ini dirancang guna mendeteksi stres fisiologis secara otomatis dan meminimalisir risiko perilaku agresif.

Pengembangan perangkat ini memanfaatkan kombinasi sensor medis dan algoritma kecerdasan buatan. Sistem tersebut terhubung langsung ke aplikasi ponsel pintar melalui koneksi WiFi untuk pemantauan jarak jauh oleh orang tua atau terapis.

Anggota tim dari Program Studi Psikologi UB memaparkan kondisi yang kerap dihadapi oleh anak-anak penderita ASD saat mengalami gangguan pemrosesan sensorik.

"Anak dengan ASD sering kali mengalami kesulitan dalam memproses rangsangan sensorik, yang dampaknya bisa memunculkan perilaku menangis, berteriak, menendang, hingga tindakan agresif yang membahayakan dirinya sendiri maupun lingkungan sekitar," kata Muhammad Nafis Khilmi, anggota tim dari Program Studi Psikologi UB.

Penggunaan alat manual seperti Snug Vest yang sudah ada sebelumnya dinilai masih membutuhkan pengawasan penuh. Untuk mengatasi masalah automasi tersebut, tim pengembang menerapkan teknologi Support Vector Machine guna membaca data fisik anak secara terintegrasi.

"Kami menanamkan sensor MAX30102 untuk mendeteksi denyut nadi jantung serta sensor MPU6050 untuk memetakan pola gerakan anak. Data dari kedua sensor fisik ini kemudian dianalisis secara cerdas oleh algoritma Support Vector Machine (SVM) guna mendeteksi secara presisi kapan anak mulai mengalami fase tantrum," terang Zakky Yahya, Ketua Tim Pengembang dari Program Studi Teknik Elektro UB.

Setelah fase tantrum terdeteksi, mikrokontroler ESP32 memicu penambahan tekanan udara pada kantung rompi. Kestabilan tekanan udara di dalam rompi diatur menggunakan algoritma Proportional Integral Derivative demi menjaga batas aman medis.

"Algoritma ini memastikan tekanan udara yang masuk ke tubuh anak tetap stabil pada batas aman yang ditentukan. Ketika sistem mendeteksi kondisi emosi anak telah kembali tenang (tidak tantrum), katup solenoid (solenoid valve) akan terbuka perlahan untuk mengempiskan rompi secara otomatis," kata Sugih Rizkiawan, anggota tim dari Teknik Elektro UB.

Inovasi ini memperoleh pendanaan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta di bawah bimbingan dosen Teknik Elektro dan Kedokteran UB. Pengujian alat juga melibatkan evaluasi langsung dari lembaga pendidikan inklusif.

"Pengembangan ADAPT-V ini melalui tahapan pengujian yang sangat ketat, mulai dari akurasi sensor, respons algoritma klasifikasi emosi, hingga kestabilan sistem tekanan udaranya. Kami juga melibatkan evaluasi langsung dari para terapis di lembaga pendidikan inklusif demi menjamin aspek kenyamanan, keamanan medis, serta kemudahan operasional alat saat diaplikasikan langsung pada anak," kata Ir Nurussa'adah, MT, dosen pembimbing dari Teknik Elektro UB.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed