Empu Tantular Menggubah Kakawin Sutasoma pada Abad Ke-14 di Kerajaan Majapahit
Pujangga masyhur Kerajaan Majapahit Empu Tantular menggubah Kakawin Sutasoma pada abad ke-14 yang menjadi landasan filosofis bangsa Indonesia hingga hari Selasa, 9 Juni 2026. Karya sastra Jawa Kuno ini bernilai penting karena memuat mentra pemersatu Nusantara. Sastra adiluhung ini ditulis menggunakan aksara Bali pada media tradisional.
Berdasarkan catatan sejarah, kitab Sutasoma terbuat dari daun lontar atau kertas yang merangkum pemikiran mendalam tentang tatanan sosial kemasyarakatan pada masa kejayaan Majapahit. Para ahli memperkirakan proses pembuatan karya monumental ini berlangsung selama beberapa dekade. Penulisan naskah tersebut diproyeksikan selesai dalam rentang waktu abad ke-14 yang dinamis.
Penyusunan naskah kuno ini bertepatan dengan masa pemerintahan raja-raja besar di Jawa Timur. Keberadaan naskah ini menjadi bukti tingginya peradaban literasi pada masa itu.
Estimasi Waktu Penulisan
Para peneliti memperkirakan Kakawin Sutasoma dibuat pada tahun 1365 hingga 1389. Periode ini merupakan masa keemasan sastra Jawa Kuno di mana banyak pujangga istana melahirkan karya-karya filosofis yang bertahan lintas zaman.
Spesifikasi Fisik dan Media Tulis
Sebagai dokumen kuno, fisik asli karya ini memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan manuskrip modern. Berikut adalah data teknis terkait fisik naskah tersebut:
| Komponen Manuskrip | Keterangan Faktual |
|---|---|
| Bahasa Pengantar | Jawa Kuno |
| Aksara yang Digunakan | Aksara Bali |
| Bahan Baku Media | Daun lontar atau kertas |
| Perkiraan Tahun Pembuatan | 1365 hingga 1389 |
Ajaran Toleransi dan Narasi Utama Sutasoma
Secara garis besar, isi kitab Sutasoma tentang apa selalu merujuk pada kisah epik seorang pangeran. Kakawin Sutasoma berisi cerita epik tentang pangeran Sutasoma yang memilih jalan sebagai pendeta Buddha.
Kisah hidup sang pangeran tersebut bukan sekadar narasi fiksi, melainkan sebuah tuntunan moral bagi masyarakat. Sastra ini mengajarkan nilai kemanusiaan yang universal.
"Kakawin Sutasoma mengandung makna mendalam tentang keseimbangan antara keberanian dan belas kasih, nilai keberanian dan ketaqwaan, serta pengampunan dan kebijaksanaan."
Melalui tokoh utamanya, Empu Tantular menyebarkan pesan perdamaian yang kuat kepada pembaca. Ajaran tersebut tercermin dalam interaksi antar-tokoh di dalam cerita.
Selain aspek moral individu, karya ini sangat menekankan pentingnya kerukunan sosial. Kakawin Sutasoma mengajarkan toleransi beragama Majapahit, terutama antara Hindu-Siwa dan Buddha.
Asal-Usul Semboyan Nasional Indonesia
Dampak paling signifikan dari karya Empu Tantular bagi era modern adalah lahirnya ideologi pemersatu bangsa. Sejarah Bhinneka Tunggal Ika mencatat peran besar para pendiri bangsa dalam menggali nilai dari naskah ini. Tokoh pergerakan nasional Mohammad Yamin menjadi sosok yang menyadari pentingnya konsep tersebut untuk menyatukan masyarakat Indonesia yang majemuk. Kalimat tersebut kemudian diusulkan menjadi lambang negara.
Kutipan dari Kitab Sutasoma pada pupuh 139 bait 5 menjadi dasar motto nasional Indonesia: "Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa". Kutipan utuh ini merefleksikan kesadaran akan kebenaran yang satu di tengah perbedaan fisik. Dalam perkembangannya, frasa tersebut disederhanakan demi kepentingan integrasi nasional. Setengah bait dari Kakawin Sutasoma, yaitu "Bhinneka Tunggal Ika", dijadikan motto nasional Indonesia, melambangkan persatuan dalam keberagaman.
Hingga saat ini, nilai-nilai dalam arti Bhinneka Tunggal Ika terus diajarkan secara turun-temurun kepada generasi muda. Tokoh sastra seperti I Gusti Sugriwa merupakan sastrawan dari Bali yang kerap mengajarkan Kakawin Sutasoma kepada masyarakat luas guna menjaga kelestarian warisan budaya bangsa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow