LPEM FEB UI Ungkap 8,01 Juta Sarjana Bekerja di Bawah Kualifikasi

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Fenomena ketidakselarasan antara dunia pendidikan tinggi dan pasar kerja di Indonesia makin mengemuka. Laporan terbaru mengungkap sebanyak 8,01 juta lulusan sarjana bekerja pada posisi yang tidak sepadan dengan tingkat pendidikannya. Temuan tersebut dipaparkan dalam riset bertajuk "Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?" yang diterbitkan LPEM FEB UI, sebagaimana dikutip dari Detikcom. Studi yang dimuat dalam Labor Market Brief Volume 7, Nomor 7, Juli 2026 (ISSN 2808-2060) ini disusun oleh peneliti Muhammad Hanri, PhD dan Nia Kurnia Sholihah, ME.

Analisis tersebut mengolah data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025. Kerangka kerjanya mengacu pada standar International Labour Organization (ILO) yang memetakan International Standard Classification of Education (ISCED) dengan International Standard Classification of Occupations (ISCO).

Dalam konteks domestik, pemetaan tersebut disesuaikan menggunakan Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI). KBJI merupakan standar pengelompokan jenis tugas dan tingkat keterampilan jabatan di Indonesia. Berdasarkan pedoman ILO, lulusan minimal S1 dikategorikan sesuai atau matched apabila menjabat sebagai manajer atau tenaga profesional, yakni kelompok KBJI 1 dan KBJI 2.

Sebaliknya, pemegang gelar sarjana yang terdampar di kelompok KBJI 3 hingga KBJI 9 masuk dalam kategori overeducated. Anggota TNI dan Polri disampingkan dari kalkulasi karena tingkat keterampilannya tidak seragam. Hasil kajian menunjukkan sekitar 8,01 juta sarjana terpaksa mengisi pekerjaan di bawah kompetensi idealnya. Sektor tata usaha serta usaha jasa dan penjualan menjadi penampung terbesar.

Sebanyak 31,0 persen lulusan S1 tercatat bekerja sebagai tenaga tata usaha (KBJI 4). Sementara itu, kelompok tenaga usaha jasa dan penjualan (KBJI 5) menyerap hingga 29,6 persen sarjana. Posisi teknisi dan asisten profesional (KBJI 3) menduduki urutan ketiga dengan porsi 17,7 persen. Sisanya tersebar di berbagai sektor pekerjaan lapangan dan manufaktur.

Distribusi Lulusan Sarjana yang Bekerja di Bawah Kualifikasi Pendidikan
Kategori Pekerjaan (KBJI)Persentase
Tenaga Tata Usaha (KBJI 4)31,0%
Tenaga Jasa dan Penjualan (KBJI 5)29,6%
Teknisi dan Asisten Profesional (KBJI 3)17,7%
Pekerja Terampil Pertanian, Kehutanan, Perikanan (KBJI 6)6,5%
Pekerja Pengolahan, Kerajinan, dan Terkait (KBJI 7)6,1%
Pekerja Kasar (KBJI 9)5,0%
Operator dan Perakit Mesin (KBJI 8)4,1%

Tingginya konsentrasi sarjana di sektor administratif diduga terjadi akibat inflasi kualifikasi. Gelar S1 sering kali dimanfaatkan pemberi kerja hanya sebagai alat penyaring berkas pelamar, meski beban tugasnya tidak berubah.

Di sisi lain, maraknya lulusan S1 yang menggeluti bidang jasa dan penjualan dapat bermakna ganda. Sebagian menjadikannya batu loncatan karier, sementara lainnya bertahan demi fleksibilitas maupun komisi pendapatan. Dominasi pekerjaan pelayanan juga mengindikasikan laju penciptaan lapangan kerja profesional kalah cepat dibanding pertumbuhan lulusan perguruan tinggi.

Penyerapan di fungsi pelayanan jauh lebih dominan ketimbang jalur spesialis. Fenomena serupa terlihat pada 6,5 persen lulusan S1 di sektor pertanian (KBJI 6). Mereka terdata melakukan kegiatan produksi langsung, bukan bertindak sebagai peneliti, ahli, atau pengelola usaha di KBJI 1 dan 2.

Tantangan Ekspansi Perguruan Tinggi

LPEM FEB UI menekankan bahwa ekspansi pendidikan tinggi tidak boleh sekadar diukur dari banyaknya pendirian kampus baru atau jumlah lulusan. Kunci utamanya terletak pada kesiapan pasar kerja dalam menyerap tenaga terdidik.

Ketidakselarasan ini memang tidak selalu menjadi masalah mutlak, sebab individu berhak memilih pekerjaan berdasarkan lokasi, tingkat penghasilan, atau prospek bisnis. Selain itu, kualifikasi gelar tidak selalu mencerminkan kompetensi yang seragam. Namun, tingginya angka sarjana di posisi non-profesional menandakan pertumbuhan tenaga kerja terdidik belum diimbangi pembukaan lapangan kerja berketerampilan tinggi. Hubungan antara kurikulum kampus dan kebutuhan industri juga belum solid.

Penambahan kapasitas universitas tanpa perencanaan kebutuhan ekonomi berisiko memperpanjang masa tunggu kerja, memperketat persaingan, serta memicu ketidakseimbangan antara kualifikasi dan jenis pekerjaan yang didapat.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow