Teka Teki Sejarah Maluku Kenapa Anggota Uli Siwa Menentang Ternate
Membaca catatan sejarah persekutuan dagang Maluku selalu memicu reaksi penasaran mengenai bagaimana wilayah sekecil itu bisa membelah loyalitasnya menjadi dua kubu besar. Fakta yang saya temukan di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan ini memuncak pada lahirnya kelompok sembilan serangkai, atau yang dikenal sebagai anggota Uli Siwa, sebagai bentuk perlawanan geopolitik regional. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan melalui situs resminya bahwa latar belakang terbentuknya Uli Lima dan Uli Siwa adalah persaingan antara dua kerajaan besar, yaitu Ternate dan Tidore.
Persaingan ini bukan sekadar urusan gengsi lokal, melainkan perebutan pengaruh ekonomi yang sangat masif di pasar rempah dunia. Sebagai pengamat sejarah yang kritis, saya melihat polarisasi ini sebagai potret nyata bagaimana komoditas cengkih dan pala bisa mengubah peta persaudaraan menjadi konflik terbuka. Mari kita bedah bagaimana struktur organisasi tradisional ini terbentuk dan siapa saja entitas yang mengisinya.
Banyak orang bertanya-tanya mengenai pemicu utama keretakan di kepulauan yang kaya ini. Berdasarkan analisis Deni Prasetyo dalam bukunya yang berjudul Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara (2009), persaingan antara Ternate dan Tidore semakin lama menjurus pada perebutan pengaruh dan kekuatan, sehingga memicu munculnya persekutuan Uli Lima dan Uli Siwa.
Kondisi ini diperparah oleh kedatangan bangsa asing yang memanfaatkan situasi demi keuntungan sepihak. Jejak kolonial mencatat dinamika yang sangat fluktuatif di tanah Maluku.
- Tahun 1512: Bangsa Portugis pertama kali masuk ke wilayah Maluku dan langsung bersekutu dengan Kerajaan Ternate.
- Tahun 1521: Bangsa Spanyol datang ke Maluku dan memilih merapat ke kubu Tidore.
- Abad ke-15 hingga abad ke-19: Kepulauan Maluku menjadi wilayah perebutan antara bangsa Spanyol, Portugis, dan Belanda.
Persaingan dua kekuatan lokal ini mengkristal ketika bangsa Eropa mulai mengadu domba kepentingan dagang demi memonopoli komoditas rempah-rempah yang bernilai tinggi.
Dari fakta tersebut, ekspektasi kita terhadap persaudaraan antar-pulau runtuh oleh realita ambisi ekonomi. Intervensi asing membuat jurang pemisah antara kedua kesultanan semakin dalam dan tidak bisa dihindari lagi.
Mengenal Anggota Uli Siwa dan Struktur Persekutuannya
Jika kita berbicara mengenai persekutuan sembilan, maka kepemimpinan tertingginya berada di tangan Kesultanan Tidore. Anggota Uli Siwa mengonsolidasikan kekuatan dari wilayah-wilayah yang secara geografis berada di bagian timur dan selatan kepulauan Maluku.
Menurut dokumen Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam buku Sejarah Daerah Maluku (1976), kelompok ini dibentuk sebagai penyeimbang kekuatan strategis. Sayangnya, kekurangan dari model persekutuan feodal seperti ini adalah tingginya ketergantungan wilayah bawahan pada keputusan politik sang sultan utama.
Berdasarkan catatan materi yang juga merujuk pada buku Sastra Rempah (2021) karya Aprinus Salam, dkk., wilayah kekuasaan yang tergabung sebagai anggota persekutuan ini meliputi area geopolitik yang luas. Pembagian daerah kekuasaan Ternate dan Tidore secara otomatis memisahkan wilayah administrasi tradisional mereka.
Daftar Wilayah dan Anggota Persekutuan
Berikut adalah perincian wilayah yang masuk ke dalam keanggotaan Uli Siwa di bawah payung pengaruh Kesultanan Tidore. Struktur ini mencakup wilayah pulau utama hingga kepulauan terpencil.
Sembilan wilayah yang memperkuat barisan pertahanan geopolitik ini meliputi Pulau Tidore sebagai pemimpin persekutuan, kemudian diikuti oleh wilayah Makian, Jailolo, serta pulau-pulau di sekitarnya. Aliansi ini juga meluas hingga mencakup sebagian wilayah Pulau Buru, Pulau Seram, dan kawasan Ambon Timur.
Selain itu, wilayah Papua Barat dan kepulauan di bagian timur Maluku turut mengonfirmasi kesetiaan mereka pada lingkaran Uli Siwa ini. Distribusi kekuasaan yang sangat luas ini menjadi modal utama Tidore untuk membendung pengaruh Ternate.
Bedanya Uli Lima dan Uli Siwa dalam Peta Kekuasaan
Bagi pembaca yang masih bingung mengenai apa itu uli lima dan bagaimana perbedaannya dengan Uli Siwa, kuncinya ada pada jumlah anggota dan pusat kepemimpinannya. Kontras visual dan politis antara keduanya sangat mencolok dalam sejarah persekutuan dagang Maluku.
| Parameter Perbandingan | Persekutuan Uli Lima | Persekutuan Uli Siwa |
|---|---|---|
| Pusat Pemimpin | Kesultanan Ternate | Kesultanan Tidore |
| Arti Nama | Persekutuan Lima | Persekutuan Sembilan |
| Mitra Asing Awal | Portugis | Spanyol |
| Basis Utama | Ambon Barat, Sulabesi | Seram Timur, Ambon Timur |
Melihat tabel di atas, saya menilai polarisasi ini sangat taktis namun rapuh. Ketika Ternate mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1570–1583 di bawah masa pemerintahan Sultan Baabullah, posisi Uli Siwa sempat tertekan hebat di berbagai lini dagang.
Namun situasi berbalik secara dinamis ketika giliran Kesultanan Tidore yang memegang kendali penuh. Pada tahun 1797–1805, yaitu masa pemerintahan Sultan Nuku, Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaannya dan berhasil membawa anggotanya mendominasi wilayah perairan timur Nusantara.
Dinamika pasang surut ini membuktikan bahwa loyalitas daerah bawahan sangat bergantung pada figur kuat yang memimpin kesultanan utama. Begitu sang sultan lemah, pengaruh persekutuan dalam jalur perdagangan rempah-rempah langsung melorot tajam.
Refleksi Kritis atas Fragmentasi Politik Rempah Maluku
Menelusuri kisah anggota Uli Siwa memberikan perspektif baru bahwa persatuan di masa lampau sangat mahal harganya. Pertanyaan retoris warga seperti "mengapa kerajaan ternate dan tidore bermusuhan?" terjawab oleh kenyataan pahit bahwa kompetisi ekonomi sering kali mengorbankan stabilitas regional.
Warisan sejarah persekutuan sembilan ini mengonfirmasi bahwa benturan kepentingan antara Tidore dan Ternate adalah alarm keras mengenai bahaya adu domba pihak asing. Kehadiran Portugis, Spanyol, hingga VOC Belanda mengeksploitasi celah persaingan ini demi menguras habis kekayaan alam Nusantara.
Struktur politik berbasis Uli Siwa pada akhirnya melebur seiring dengan runtuhnya dominasi kerajaan tradisional di Nusantara dan berganti menjadi sistem administrasi modern. Memahami konformasi sejarah ini penting agar kita tidak jatuh ke dalam lubang perpecahan internal yang sama di masa depan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow