Stella Christie Ingatkan Penerima Beasiswa Garuda Terkait Utang Budi

Smallest Font
Largest Font

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengingatkan 390 penerima Beasiswa Garuda Batch 1 2026 bahwa dana pendidikan dari negara merupakan sebuah utang budi kepada masyarakat Indonesia, Kamis (9/7/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara Orientasi Program SMA Unggul Garuda Transformasi dan Pembekalan Batch 1 Awardee Beasiswa Garuda Tahun 2026 di Grha Diktisaintek, Jakarta, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Ratusan penerima beasiswa tersebut dijadwalkan menempuh studi jenjang S1 di dalam maupun luar negeri.

Pesan ini menekankan kembali sikap Stella terkait tanggung jawab penerima dana negara. Kewajiban moral ini sebelumnya juga disinggung saat mencuatnya kasus seorang penerima beasiswa LPDP berinisial DS, yang suaminya diketahui belum memenuhi kewajiban kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi.

"Ingatlah saya dulu pernah tahun lalu ya, Pak ya, saya bicara bahwa beasiswa itu adalah utang. Dan saya tetap, walaupun banyak yang sedikit ngomel ya, enggak apa-apa. Enggak apa-apa," ucap Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Pemerintah memandang bahwa alokasi dana beasiswa ini bukan sekadar fasilitas cuma-cuma, melainkan sebuah kepercayaan besar yang didanai oleh kekayaan negara.

"Beasiswa itu adalah utang, adik-adik sekalian. Bukan utang uang. Waktu itu pun saya tidak bicara hutang uang, tapi utang budi.

Utang budi bukan kepada pemerintah, tetapi utang budi kepada masyarakat Indonesia. Jadi kalau kalian tidak mengembangkan diri kalian dengan sebaik-baiknya, kalian menyia-nyiakan kepercayaan dan kekayaan negara ini," sambung Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Pengembangan potensi diri oleh para penerima beasiswa dinilai krusial sebagai bentuk investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

"Semoga adik-adik sekalian yang mendapatkan beasiswa Garuda juga percaya bahwa investasi yang kita tanamkan kepada kalian itu adalah terutama sekali membangun diri kalian sendiri. Kita tidak minta yang muluk-muluk, tapi kita percaya jika adik-adik mengembangkan potensinya dengan sebaik-baiknya, kalian akan membawa manfaat bagi negara ini," kata Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kontribusi nyata pascastudi diharapkan dapat lahir dalam berbagai sektor, mulai dari ranah ilmiah, dunia usaha, hingga penentuan kebijakan berbasis data.

"Kalian akan menjadi ilmuwan yang paling top, menemukan inovasi baru. Kalian akan menjadi mungkin pengusaha yang yang akan menyumbangkan menciptakan banyak lapangan kerja, pengambil kebijakan kembali ke pemerintahan untuk membuat kebijakan yang berdasarkan data, yang berdasarkan kebijakan yang paling yang paling bisa membawa manfaat bagi Indonesia. Jadi itu tetap, beasiswa adalah utang budi," tutur Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Berkaca dari kasus kontroversi awardee LPDP sebelumnya, kementerian menyoroti adanya persoalan mendasar pada pemahaman nilai moral sejak dini.

"Beasiswa tidak dipahami sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas," kata Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Sikap patriotisme perlu dipupuk agar penerima beasiswa lebih fokus memberikan dampak positif secara nyata kepada masyarakat di Tanah Air.

"Bagi penerima beasiswa negara, fokuslah bagaimana Anda bisa bermanfaat bagi individu-individu di Indonesia, lebih dari untuk institusi yang abstrak. Fokus pada individu akan membuat Anda bernalar dengan lebih tajam," lanjut Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Stella juga menambahkan bahwa pembatasan yang berlebihan justru dapat memicu sinisme dan membuat penerima beasiswa mencari celah hukum. Sebaliknya, ia memberikan contoh para ilmuwan diaspora Indonesia di berbagai negara, seperti Prof Vivi Kashim di Tiongkok, Prof Sastia Putri di Jepang, dan Prof Haryadi di Amerika Serikat, yang tetap menunjukkan dedikasi besar bagi bangsa.

"Contoh-contoh baik ini perlu disorot Prof Vivi Kashim di Tiongkok, Prof Sastia Putri di Jepang, Prof Haryadi di Amerika Serikat dan masih banyak lagi. Semoga kita terbuka bahwasanya memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk," ungkap Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed