Tragedi Ambon 1817 Mengapa Maluku Angkat Senjata Melawan Belanda

Smallest Font
Largest Font

Pertanyaan sejarah mengenai "apa penyebab perlawanan rakyat maluku" di bawah kepemimpinan Kapitan Pattimura selalu menarik untuk dibedah secara kritis. Sebagai pengamat sejarah, saya melihat peristiwa yang meletus pada tahun 1817 ini bukan sekadar letupan kemarahan spontan. Ini adalah kulminasi dari rasa frustrasi yang mendalam akibat pengkhianatan geopolitik global dan kembalinya penindasan ekonomi yang ekstrem. Mari kita kesampingkan narasi romantis buku teks sekolah sejenak dan melihat realitas politik yang terjadi di wilayah Maluku pada masa itu.

Latar belakang perang pattimura tidak bisa dilepaskan dari dinamika kekuasaan antara Inggris dan Belanda di panggung internasional.

Pada tahun 1810–1811, Inggris sebenarnya telah menduduki wilayah Hindia Belanda, termasuk Maluku, dan membawa angin segar bagi struktur sosial masyarakat lokal. Namun, ketenangan tersebut runtuh ketika Inggris menandatangani Traktat London atau Konvensi London pada tahun 1814 yang mewajibkan pengembalian wilayah Hindia Belanda kepada Belanda.

Realisasi pengembalian wilayah tersebut kemudian dimulai di tingkat pusat pada tahun 1816, sebelum akhirnya merembet ke wilayah kepulauan Maluku.

Detik-Detik Penyerahan Kekuasaan di Benteng Victoria

Proses transisi kekuasaan ini berlangsung secara formal pada tanggal 24 Maret 1817. Pada hari itu, dilakukan pelaksanaan resmi penyerahan kekuasaan wilayah Maluku dari Residen Inggris William Bisset Martin kepada Gubernur Belanda Jacobus Ariën van Middelkoop. Prosesi serah terima yang penuh ketegangan ini bertempat di Benteng Victoria, Kota Ambon.

Masyarakat Maluku yang sudah telanjur nyaman dengan kebijakan Inggris yang relatif lebih longgar, seketika didera kecemasan luar biasa menghadapi kembalinya kendali penuh dari Amsterdam.

Kedatangan Armada Laut Belanda di Teluk Ambon

Masih pada tanggal yang sama, yaitu 24 Maret 1817, kekuatan militer Belanda menegaskan kehadirannya dengan berlabuhnya tiga kapal perang besar di Teluk Ambon. Ketiga armada tersebut membawa misi pengamanan kekuasaan baru kolonial atas bumi rempah-rempah Maluku. Kapal pertama adalah Kapal Evertsen yang awalnya dipimpin oleh Kapten Laut Nicolaas Hermanus Dietz, namun ia wafat pada tanggal tersebut dan posisinya langsung digantikan oleh Letnan Laut Quirijn Maurits Rudolph Ver Huell.

Kapal kedua adalah Kapal Nassau yang berada di bawah komando Kapten Laut Sloterdijk.

Sementara armada ketiga yang ikut bersandar adalah Kapal Maria Reigersbergen yang dipimpin oleh Letnan Laut Groot.

Kehadiran tiga kapal perang besar Belanda di Teluk Ambon menjadi simbol nyata kembalinya belenggu kolonialisme yang siap menguras kekayaan Maluku.

Kebijakan Menindas yang Memicu Kemarahan Rakyat Saparua

Begitu kekuasaan berpindah, kekhawatiran rakyat Maluku langsung terbukti menjadi kenyataan pahit. Pada Maret 1817, Johannes Rudolph van den Berg mulai menjabat sebagai Residen Saparua atau Honimoa yang baru dan berkedudukan di Benteng Duurstede.

Di bawah kendali residen baru ini, berbagai penyimpangan VOC atau Belanda kembali diterapkan secara agresif di Maluku pada tahun 1817 tersebut. Belanda secara sepihak memberlakukan kembali praktik eksploitasi ekonomi lama yang sangat dibenci oleh penduduk lokal. Kebijakan tersebut mencakup kerja paksa (kerja rodi), penyerahan wajib hasil bumi dengan harga yang dipatok sangat murah, serta kerja wajib lainnya.

Kondisi ini diperparah oleh sikap arogan para pejabat kolonial yang sama sekali tidak menghormati adat istiadat setempat.

Rakyat Maluku merasa bahwa mereka tidak lagi diperlakukan sebagai manusia, melainkan sekadar komoditas dan mesin produksi pemeras kekayaan alam. Ketidakpuasan yang menumpuk ini memicu gelombang perlawanan massal yang terorganisasi dengan rapi.

Latar Belakang, Kronologi, dan Dampak Terjadinya Perang Pattimura | Dinasti Ranti

Kronologi Meletusnya Perang Saparua dan Penyerangan Benteng Duurstede

Puncak dari segala kekecewaan ini melahirkan sebuah konfrontasi militer terbuka yang dicatat sebagai sejarah perang saparua.

Rakyat Saparua berkumpul dan memilih Thomas Matulessy, yang kemudian dikenal dengan gelar Kapitan Pattimura, sebagai pemimpin tertinggi perjuangan mereka. Pattimura, yang merupakan mantan tentara korps Ambon pada masa Inggris, memiliki keahlian taktis militer yang sangat mumpuni untuk mengorganisasi pasukan rakyat.

Kejadian spesifik yang menandai dimulainya perang ini adalah penyerangan bersenjata terhadap pos pertahanan utama Belanda. Pada tanggal 15 Mei 1817, pasukan rakyat yang dipimpin langsung oleh Pattimura melakukan penyerangan kilat ke Benteng Duurstede.

Serangan yang dilancarkan dengan strategi matang ini berhasil mengejutkan pasukan kolonial yang berjaga. Dalam pertempuran sengit tersebut, Benteng Duurstede berhasil dikuasai sepenuhnya oleh pasukan rakyat Maluku. Residen Johannes Rudolph van den Berg bersama seluruh keluarga dan pasukan penjaga benteng tewas dalam peristiwa penyerangan tersebut.

Keberhasilan merebut benteng strategis ini membakar semangat perlawanan di berbagai wilayah lain di Maluku, seperti Hitu, Haruku, dan Larike.

Detail Kekuatan Perang dan Transisi Kekuasaan 1817

Untuk memahami skala konflik dan latar belakang struktural secara lebih gambaran makro, kita bisa melihat rincian peristiwa sejarah penting sepanjang periode transisi tersebut.

Berikut adalah garis waktu dan detail elemen kekuasaan yang terlibat langsung dalam konflik Maluku tahun 1817.

Kronologi Kekuasaan dan Armada Militer dalam Perang Pattimura 1817
Waktu KejadianNama Tokoh / ArmadaPeran / JabatanLokasi Peristiwa
1810–1811Pemerintah InggrisPenguasa Wilayah SementaraHindia Belanda / Maluku
1814Inggris & BelandaPenandatangan Traktat LondonLondon, Inggris
24 Maret 1817William Bisset MartinResiden Inggris (Penyerah Kuasa)Benteng Victoria, Ambon
24 Maret 1817Jacobus Ariën van MiddelkoopGubernur Belanda (Penerima Kuasa)Benteng Victoria, Ambon
24 Maret 1817Kapal Evertsen (Letnan Ver Huell)Kapal Perang Pengamanan BelandaTeluk Ambon
24 Maret 1817Kapal Nassau (Kapten Sloterdijk)Kapal Perang Pengamanan BelandaTeluk Ambon
24 Maret 1817Kapal Maria Reigersbergen (Letnan Groot)Kapal Perang Pengamanan BelandaTeluk Ambon
Maret 1817Johannes Rudolph van den BergResiden Saparua BelandaBenteng Duurstede
15 Mei 1817Kapitan Pattimura & Pasukan RakyatPemimpin Penyerangan BentengBenteng Duurstede

Bagaimana Akhir dari Perang Pattimura dan Dampaknya

Meskipun meraih kemenangan gemilang di awal pertempuran, jalannya peperangan mulai berbalik arah beberapa bulan kemudian. Banyak yang penasaran mengenai "bagaimana akhir dari perang pattimura" setelah keberhasilan merebut benteng tersebut. Pemerintah kolonial Belanda tidak tinggal diam melihat salah satu aset paling berharganya di Nusantara jatuh dan tentaranya dibantai.

Belanda segera mendatangkan bantuan pasukan militer dalam jumlah besar dari Batavia untuk memadamkan pemberontakan.

Memasuki Agustus 1817, batas waktu keberlangsungan perang di Saparua mulai menemui titik kritis bagi pasukan rakyat. Pattimura bersama pasukannya mulai terkepung rapat akibat gelombang bantuan pasukan Belanda yang terus mengalir tanpa henti.

Satu per satu wilayah pertahanan rakyat berhasil direbut kembali oleh kolonial melalui taktik adu domba dan bumi hangus. Perjuangan ini akhirnya mencapai titik akhir yang tragis ketika tokoh yang terlibat dalam perang pattimura, termasuk Pattimura sendiri, dikhianati dan ditangkap oleh Belanda.

Pada akhir tahun 1817, Kapitan Pattimura bersama beberapa sekutu dekatnya dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan di Kota Ambon. Meskipun perlawanan fisik berhasil dipadamkan, dampak perang pattimura bagi belanda sangat signifikan karena menguras kas keuangan kolonial dan memaksa mereka merombak total sistem pengamanan militer di wilayah kepulauan. Untuk mempelajari lebih dalam mengenai analisis sosiologis pasca-konflik di wilayah ini, buku Ambon door de eeuwen yang diterbitkan oleh Ben van Kaam di Baarn, Belanda pada tahun 1977 bisa menjadi referensi akademis yang sangat berharga.

Sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan Thomas Matulessy sebagai Pahlawan Nasional.

Bahkan, potret kegagahan wajah Kapitan Pattimura diabadikan secara luas pada Uang Nominal Seribu Rupiah yang pernah menjadi alat pembayaran sah di seluruh pelosok negeri. Kisah heroik dari Saparua ini tetap menjadi pengingat abadi bahwa penindasan ekonomi dan pengabaian hak-hak kemanusiaan akan selalu melahirkan perlawanan yang sengit.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed