Kenapa Rakyat Maluku Mengamuk di Tahun 1817? Ini Alasan Tersembunyi di Balik Perang Saparua
Pembahasan mengenai sebab perang pattimura selalu membawa kita pada lembaran hitam sejarah kolonialisme yang penuh dengan pemaksaan kehendak dan eksploitasi tanpa kemanusiaan. Saya melihat banyak orang kerap menyederhanakan konflik besar ini hanya sebagai perebutan wilayah kekuasaan biasa. Padahal, jika kita membedah sejarah singkat kapitan pattimura melawan belanda, ada akumulasi kemarahan mendalam dari rakyat Maluku yang sudah tidak bisa ditahan lagi akibat ketidakadilan yang mendarat di tanah mereka. Sebagai seorang pengamat sejarah yang kritis, saya menilai kembalinya kekuasaan Belanda ke tangan VOC pada awal abad ke-19 menjadi pemantik utama yang membakar habis sisa-sisa kesabaran masyarakat Saparua dan sekitarnya.
Untuk memahami konflik ini secara utuh, kita harus mundur ke garis waktu ketika bangsa-bangsa Eropa mulai mencium aroma keuntungan dari cengkih dan pala.
Sejak abad ke-16 hingga 17 Masehi, Maluku telah menjadi arena pertempuran diplomatik dan fisik bagi bangsa Eropa seperti Inggris, Belanda, Portugis, hingga Spanyol yang saling sikut untuk memperebutkan kekuasaan dagang rempah-rempah. Kondisi sempat berubah ketika Inggris secara resmi mengambil alih Kepulauan Maluku dari tangan Belanda pada 17 Februari 1810, memberikan sedikit ruang napas bagi warga lokal dari aturan yang mencekik.
Namun, kedamaian relatif itu hancur berantakan ketika wilayah kaya ini harus dikembalikan ke tangan penguasa lama melalui konvensi internasional.
Kembalinya cengkeraman kolonial lama membawa serta beban-beban ekonomi kuno yang sebenarnya sudah usang dan dibenci oleh penduduk setempat.
Sebab Perang Pattimura yang Mengguncang Saparua
Menurut analisis yang dipaparkan oleh Joko Darmawan dalam bukunya yang berjudul Sejarah Nasional: Ketika Nusantara Berbicara (2017), terdapat beberapa alasan kuat yang memicu munculnya perlawanan masyarakat Maluku terhadap Belanda pada tahun 1817.
Sebab perang pattimura tidak muncul dari satu kejadian tunggal, melainkan merupakan rentetan kebijakan eksploitatif yang kembali diterapkan setelah VOC datang untuk menguasai wilayah Maluku pada tahun 1814.
Penindasan Ekonomi dan Monopoli Rempah yang Mencekik
Alasan pertama dan yang paling mendasar dari pertanyaan kenapa rakyat maluku melakukan perlawanan terhadap voc adalah diberlakukannya kembali praktik monopoli perdagangan yang sangat merugikan.
Pemerintah kolonial memaksa penduduk untuk menjual hasil bumi hanya kepada mereka dengan harga yang ditetapkan sepihak dan sangat rendah.
Tidak hanya itu, kebijakan kerja paksa atau rodi yang sebelumnya sempat dihapus oleh pemerintah Inggris, mendadak diterapkan lagi dengan intensitas yang lebih parah.
Kewajiban Penyerahan Wajib yang Menyengsarakan
Rakyat dipaksa menyerahkan hasil pertanian mereka dalam jumlah yang ditentukan tanpa memedulikan apakah hasil panen sedang bagus atau gagal. Kondisi ini diperparah dengan adanya pemecatan guru-guru sekolah akibat pengurangan anggaran oleh pemerintah Belanda, serta penolakan institusi kolonial untuk membayar uang atas kapal-kapal yang dipesan dari penduduk lokal. Kebijakan-kebijakan minus empati inilah yang menjustifikasi opini saya bahwa perlawanan fisik adalah satu-satunya jalan keluar terhormat bagi masyarakat Maluku saat itu.
Untuk memberikan gambaran transisi kekuasaan yang menjadi latar belakang perang pattimura tahun 1817, berikut adalah lini masa penguasaan wilayah Maluku oleh bangsa asing sebelum pecahnya perang:
| Tahun Kejadian | Pihak Penguasa | Dampak Kebijakan Terhadap Rakyat |
|---|---|---|
| Abad 16–17 Masehi | Eropa (Inggris, Belanda, Portugis, Spanyol) | Perebutan jalur dagang rempah-rempah secara agresif |
| 17 Februari 1810 | Inggris | Pengambilalihan resmi wilayah Maluku dari Belanda |
| Tahun 1814 | VOC / Belanda | Kedatangan kembali untuk menguasai jalur perdagangan |
| Tahun 1817 | Rakyat Maluku | Pecahnya revolusi fisik akibat penindasan ekonomi |
Kebangkitan Perlawanan dan Tokoh Penting Saparua
Ketika situasi sudah berada di titik nadir, rakyat Maluku menyadari bahwa mereka membutuhkan komando yang solid untuk menghentikan kesewenang-wenangan ini. Melalui sebuah pertemuan penting yang dihadiri oleh perwakilan berbagai negeri di Maluku pada 14 Mei 1817, rakyat berkumpul untuk menyatukan visi perjuangan mereka. Dalam forum besar tersebut, masyarakat Maluku secara bulat mengangkat Thomas Matulessy sebagai pemimpin pergerakan mereka dengan sebutan Kapitan Pattimura.
Pria yang lahir pada 8 Juni 1783 di Haria, Saparua ini memiliki kecakapan militer dan kepemimpinan yang disegani, menjadikannya figur sentral di tengah badai perlawanan.
Jika kita melihat peta kekuatan gerakan ini, penting untuk mengetahui siapa saja tokoh perang pattimura yang ikut berdiri di garis depan bersama sang Kapitan.
- Anthony Reebok: Salah satu panglima perang kepercayaan Pattimura yang mengatur strategi di lapangan.
- Philip Latumahina: Tokoh pejuang yang terkenal dengan keberaniannya dalam pertempuran jarak dekat.
- Said Perintah: Pemimpin lokal yang menggerakkan massa dari berbagai desa untuk bergabung dalam barisan.
- Christina Martha Tiahahu: Pejuang perempuan tangguh yang melanjutkan api perlawanan meski usianya masih sangat muda.
Kronologi Perebutan Benteng Duurstede
Gerakan yang awalnya berupa penolakan administratif berubah menjadi konfrontasi bersenjata total hanya dalam hitungan hari setelah pengangkatan sang pemimpin. Tepat pada tanggal 15 Mei 1817, Kapitan Pattimura bersama pasukannya memulai operasi penyerangan ke pos-pos dan benteng Belanda di Saparua.
Target utama mereka adalah Benteng Duurstede, sebuah simbol kekuatan militer sekaligus pusat administrasi kolonial yang sangat angkuh di wilayah tersebut. Serangan mendadak yang terencana dengan matang ini berhasil mengejutkan pasukan kolonial yang berjaga. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan yang kuat itu jatuh ke tangan rakyat Maluku, dan Residen Van den Berg tewas dalam pertempuran herois tersebut.
Kemenangan di Duurstede ini menjadi bukti nyata bahwa taktik gerilya dan persatuan rakyat mampu meruntuhkan dominasi militer Eropa yang bersenjata lebih modern.
Akhir Perjuangan dan Dampak Bagi Tanah Maluku
Sayangnya, kemenangan demi kemenangan yang diraih oleh pasukan Pattimura harus menghadapi tembok besar bernama taktik adu domba dan blokade ekonomi dari Batavia. Belanda mendatangkan pasukan bantuan dalam jumlah besar yang dilengkapi persenjataan berat untuk merebut kembali wilayah Saparua. Akibat pengkhianatan dari dalam dan habisnya logistik, Kapitan Pattimura akhirnya berhasil ditangkap oleh pasukan kolonial.
Perjalanan hidup sang panglima harus berakhir di tiang gantungan pada 16 Desember 1817 di Nieuw Victoria, Ambon, Maluku pada umur 34 tahun.
Kekalahan ini membawa konsekuensi emosional dan fisik yang sangat berat bagi masyarakat yang ditinggalkan. Lalu, apa dampak dari perang pattimura bagi rakyat maluku setelah padamnya api perlawanan tersebut?
Pemerintah kolonial menerapkan hukuman kolektif yang sangat kejam untuk memastikan pemberontakan serupa tidak akan pernah terjadi lagi di masa depan. Sebanyak 39 orang ditangkap dan dibuang bersama pejuang wanita Christina Martha Tiahahu ke Pulau Jawa untuk menjalani kerja rodi yang melelahkan.
Struktur sosial masyarakat dirusak, pengawasan militer diperketat, dan monopoli rempah-rempah dipaksakan kembali dengan kepalan tangan besi yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Meskipun berakhir dengan duka yang mendalam, pengorbanan Thomas Matulessy tidak pernah sia-sia di mata bangsa Indonesia. Atas jasa dan dedikasinya yang luar biasa dalam melawan kolonialisme, pada 6 November 1973, Thomas Matulessy secara resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto.
Perang Saparua tahun 1817 memberikan kita pelajaran berharga bahwa penindasan atas nama ekonomi dan martabat bangsa akan selalu melahirkan perlawanan, tak peduli seberapa besar kekuatan militer yang dimiliki oleh pihak penguasa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow