Kisah Haru Devi, Yatim Piatu Ponorogo Jadi Wisudawan Terbaik Unair

Smallest Font
Largest Font

Riuh tepuk tangan menggema di dalam gedung saat nama Devi Ridho Syavitri dipanggil untuk maju ke depan. Dalam prosesi wisuda Universitas Airlangga periode Mei 2026, ia melangkah bukan sekadar sebagai lulusan, melainkan sebagai wisudawan terbaik yang berhasil mencatatkan indeks prestasi kumulatif luar biasa mencapai 3,90.

Di balik senyum kebahagiaan dan prestasi mentereng tersebut, tak banyak yang mengetahui bahwa Devi menyimpan kisah perjuangan yang amat sunyi. Ia harus menyelesaikan seluruh masa perkuliahannya sebagai seorang anak yatim piatu, tanpa didampingi lagi oleh kehadiran ayah maupun ibundanya.

Atas pencapaian luar biasa di akhir masa studinya sebagai sarjana, Devi mengaku dipenuhi rasa syukur sekaligus kebahagiaan yang mendalam. Hingga momen kelulusan itu tiba, ia bahkan masih merasa tidak menyangka bisa memperoleh hasil yang begitu gemilang di akhir masa kuliahnya.

Langkah Devi menuju gerbang kelulusan di kampus berlambang garuda mukti ini sejatinya tidak pernah berjalan semulus yang dibayangkan orang lain. Pada tahun 2021, saat baru memulai lembaran baru sebagai mahasiswa, badai ujian hidup yang teramat berat datang bertubi-tubi menghampirinya.

Hanya dalam rentang waktu yang sangat berdekatan, Devi harus kehilangan kedua orang tuanya sekaligus untuk selama-lamanya. Selang 100 hari setelah kepergian sang ayah, ia kembali dipukul kenyataan pahit bahwa ibunda tercinta juga menyusul berpulang, membuat harapan besarnya untuk membahagiakan mereka seketika sempat padam.

"Kala itu, bermimpi menjadi seorang dosen atau bahkan mencapai pendidikan tinggi bukan lagi sebuah tujuan, melainkan angan-angan panjang yang terasa sulit untuk didapatkan," kenang Devi.

Bangkit dari Keterpurukan

Kendati sempat terlempar ke titik nadir dan terpuruk akibat kedukaan yang mendalam, Devi menolak untuk menyerah pada keadaan. Semangat yang perlahan ia kumpulkan kembali justru menuntunnya diterima di Program Studi Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.

Bakat dan mental pejuang sebenarnya telah tertanam sejak ia masih duduk di bangku sekolah sebagai alumnus SMAN 1 Badegan Ponorogo, di mana ia rajin mengasah kemampuan dengan mengikuti berbagai perlombaan nasional. Selama masa sekolah tersebut, belasan prestasi berhasil ia bawa pulang ke tanah kelahirannya.

Catatan prestasinya pun terbilang mentereng, mulai dari Juara 2 Gagasan Tertulis Tingkat Nasional INFEST 2021 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, hingga Juara 2 Esai Nasional SMENTION di SMAIT Insantama Bogor. Tidak ketinggalan, ia juga menyabet Juara 2 Essay di Ocean Essay Competition Poseidon Nasional Institut Teknologi Bandung, serta Juara 3 Lomba Debat Akuntansi dalam ajang Semarak Akuntansi 2021 di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Tidak hanya moncer di jalur perlombaan nonakademik, Devi juga berhasil mempertahankan predikat sebagai peraih ranking paralel 1 dari kelas 10 hingga kelas 12 untuk sejurusan IPS di sekolahnya. Mengenai seluruh capaian tersebut, ia membeberkan bahwa kuncinya terletak pada kedisiplinan dalam menyusun target hidup.

"Target ini akan menjadi pengingat sekaligus penyemangat bagi aku untuk melakukan langkah demi langkah yang harus aku tempuh," tutur Devi.

Demi bisa memenangkan berbagai kompetisi yang diikutinya, perempuan asal Ponorogo ini mengaku sangat telaten dalam menjalani proses bimbingan bersama guru, terutama untuk kompetisi yang berkaitan dengan dunia kepenulisan.

"Saya asah terus cara saya menulis dan ide-ide saya dengan pembimbing. Kemudian saya juga belajar presentasi, membuat power point, bahkan harus keluar uang banyak jika memang essay saya membutuhkan bukti produk," ucap Devi.

Aktivitas harian Devi semasa sekolah memang dipadati oleh jadwal yang ketat demi menggapai impiannya. Setelah bel sekolah berbunyi, ia biasanya langsung bergegas memanfaatkan waktu luang untuk melakukan bimbingan di ruang perpustakaan.

"Setelah itu, sorenya saya mulai merancang karya yang saya buat, sedangkan malam harinya saya gunakan untuk belajar lagi. Misalnya untuk mengerjakan tugas dan sebagainya," tutur Devi.

Menelurkan Buku dan Meraih Beasiswa S2

Semangat untuk terus berkompetisi dan berkarya tersebut tidak pernah padam bahkan ketika ia sudah berstatus sebagai mahasiswa, termasuk saat dirinya menjajal peruntungan dalam lomba puisi. Puncaknya, pada tahun 2023, ia berhasil menelurkan sebuah karya fiksi berupa novel yang diberi judul "Gugurnya Dosa".

Buku fiksi tersebut diakui Devi lahir dari adaptasi kisah perjalanan hidupnya sendiri yang kemudian dipadukan dengan sentuhan rekayasa cerita. Melalui untaian kalimat dalam novel tersebut, ia ingin mengangkat pesan mendalam mengenai konsekuensi dari setiap perbuatan manusia serta pentingnya sikap berhati-hati dalam mengambil tindakan.

Seluruh daya upaya dan keteguhan hati Devi untuk terus mengembangkan potensi diri di tengah terpaan badai kehidupan akhirnya membuahkan hasil manis, berupa penghargaan dua beasiswa sekaligus. Pencapaian ini seolah menjadi bahan bakar baru yang mendorongnya untuk tetap berani merajut mimpi masa kecilnya.

"Sejak kecil, saya memiliki keinginan yang besar untuk bisa berkuliah dan menjadi seorang dosen," ucap Devi.

Kini, mimpi itu berada satu langkah lebih dekat di depan mata setelah ia resmi dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Sebagai bentuk apresiasi atas ketangguhan dan prestasinya, Rektor Universitas Airlangga secara langsung memberikan hadiah berupa beasiswa penuh untuk melanjutkan studi ke jenjang magister.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed