Gagal Pertahankan Monopoli Dagang Gowa Ini Isi Perjanjian Bongaya 1667
Mengetahui isi perjanjian bongaya secara mendalam memberikan gambaran jelas mengenai peta politik dan ekonomi di Nusantara pada abad ke-17. Perjanjian ini bukan sekadar naskah perdamaian biasa, melainkan instrumen hukum yang melumpuhkan kedaulatan maritim Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan.
Bagi Anda yang sedang mempelajari sejarah kolonial, memahami dinamika traktat ini membantu rekonstruksi peristiwa runtuhnya supremasi perdagangan lokal. Mari kita bedah langkah demi langkah kronologi, pasal krusial, hingga dampak fatalnya.
Memahami klausul perdamaian ini tidak bisa dilepaskan dari konflik panjang yang mendahuluinya. Kerajaan Gowa di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin yang berlangsung pada 1653 hingga 1669 Masehi merupakan kekuatan laut utama yang menolak monopoli dagang Kompeni.
Dari pengalaman saya mengulas sejarah maritim Indonesia, ketegangan memuncak karena Makassar menerapkan prinsip laut bebas. Prinsip kebebasan perdagangan tersebut sangat bertentangan dengan kebijakan monopoli komoditas rempah-rempah yang dipaksakan oleh VOC Batavia.
Serangan Awal Kompeni Belanda Tahun 1660
Konflik bersenjata berskala besar sejatinya sudah pecah beberapa tahun sebelum perjanjian final disepakati. Pada tahun 1660, VOC mengerahkan armadanya untuk menyerang Gowa secara mendadak demi memecah konsentrasi kekuatan militer lokal.
Serangan pada 1660 tersebut berhasil memaksa Sultan Hasanuddin untuk menerima persetujuan perdamaian pertama. Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi internal istana Gowa bahwa kekuatan militer Belanda tidak dapat diremehkan.
Pemberontakan Internal Arung Palakka
Kesalahan umum yang sering saya temui saat menganalisis konflik ini adalah menganggapnya murni pertempuran dua pihak antara Gowa dan VOC. Faktanya, ada dinamika politik lokal yang sangat kompleks yang melibatkan perseteruan antarkerajaan di Sulawesi Selatan.
Masih pada tahun 1660, Arung Palakka memimpin sekitar 10.000 orang Bugis dari Bone untuk melakukan pemberontakan bersenjata melawan dominasi Gowa. Sayangnya, gerakan masif dari Bone tersebut gagal total di lapangan.
Arung Palakka bersama sisa pengikutnya kemudian mengambil langkah berisiko tinggi dengan melarikan diri ke Batavia untuk mencari perlindungan politik dan bantuan militer dari VOC.
Aliansi taktis antara Arung Palakka dan VOC di Batavia ini nantinya menjadi kunci utama yang mengubah peta kekuatan militer dalam Perang Makassar.
Kronologi Agresi Militer Kompeni Hingga Tahun 1667
Langkah taktis VOC berikutnya adalah menyusun sebuah ekspedisi pemungas berskala besar guna menghancurkan benteng-benteng pertahanan Gowa secara sistematis dari berbagai arah.
- Pengiriman Ekspedisi Militer Desember 1666: VOC mengirimkan ekspedisi militer masif berisi 21 kapal perang yang mengangkut tentara Eropa, serdadu Ambon, serta pasukan Arung Palakka di bawah pimpinan Cornelis Speelman.
- Peruntuhan Benteng Galesong Agustus 1667: Pada 22 Agustus 1667, kekuatan tempur Arung Palakka berhasil meruntuhkan Benteng Galesong setelah melalui pertempuran darat yang sengit, di mana korban dari pihak Gowa mencapai 1.000 orang.
- Kejatuhan Benteng Barombong September 1667: Sebulan berselang, tepatnya pada 22 September 1667, angkatan perang gabungan Kompeni, Bone, Buton, dan Ternate menjatuhkan Benteng Barombong melalui gempuran simultan dari darat dan laut.
- Penghancuran Benteng Panakkukang November 1667: Puncak serangan umum terjadi pada 7 November 1667 ketika Arung Palakka dan Cornelis Speelman menghancurkan Benteng Panakkukang secara total, memutus jalur logistik utama istana Gowa.
Rentetan kekalahan beruntun dalam Perang Makassar antara Kerajaan Gowa melawan VOC dan sekutunya yang berlangsung dari 1666 hingga 1669 ini memaksa pihak istana mengambil keputusan diplomasi pahit.
Poin-Poin Utama dalam Perjanjian Bongaya
Penandatanganan Perjanjian Bongaya/Bungaya akhirnya dilaksanakan pada hari Jumat, 18 November 1667 di Desa Bongaya, Sulawesi Selatan. Traktat perdamaian ini berisi pasal-pasal sepihak yang sangat merugikan kedaulatan wilayah ekonomi Sultan Hasanuddin.
Dari dokumen otentik yang dicatat dalam sejarah, berikut adalah poin-poin krusial yang wajib dipahami mengenai isi traktat perdamaian 1667 tersebut:
- Monopoli Perdagangan total: Gowa wajib mengakui monopoli dagang VOC di seluruh wilayah kekuasaannya, dan menutup pelabuhan Makassar bagi pedagang Eropa lainnya.
- Ganti Rugi Perang: Pemerintah Gowa diwajibkan membayar ganti rugi perang sebesar 250.000 rijksdaalders dalam 5 musim berturut-turut, atau mengirim budak ke Batavia.
- Penyerahan Tokoh Perlawanan: Raja Bima dan Karaeng Bontomarannu harus diserahkan dalam waktu 10 hari, atau putra mereka akan ditahan sebagai gantinya.
- Pembongkaran Benteng: Gowa harus membongkar sebagian besar benteng pertahanannya, kecuali Benteng Ujung Pandang yang diserahkan penuh kepada VOC.
- Pengakuan Kemerdekaan Bone: Gowa wajib melepaskan pengaruhnya atas Bone dan mengakui Arung Palakka sebagai Raja Bone yang sah.
| Kategori Klausul | Ketentuan Hukum Spesifik | Batas Waktu / Kompensasi |
|---|---|---|
| Ganti Rugi Finansial | Membayar 250.000 rijksdaalders | 5 Musim berturut-turut |
| Kompensasi Budak | Mengirim 1.000 budak pria dan wanita ke Batavia | 2½ tael atau 40 mas emas per orang |
| Penyerahan Tokoh | Mengekstradisi Raja Bima dan Karaeng Bontomarannu | Maksimal 10 hari sejak penandatanganan |
Mengapa Sultan Hasanuddin Menandatangani Perjanjian Bongaya?
Pertanyaan yang sering muncul di kalangan pelajar adalah mengapa Sultan Hasanuddin akhirnya bersedia menandatangani perjanjian yang begitu merendahkan martabat kerajaannya tersebut.
Berdasarkan analisis situasi taktis di lapangan, posisi militer Gowa sudah terjepit hebat setelah jatuhnya benteng-benteng utama seperti Panakkukang dan Barombong. Blokade laut ketat yang dilakukan armada Cornelis Speelman juga membuat pasokan makanan dan amunisi ke dalam kota Makassar terputus total.
Langkah diplomasi ini diambil sebagai strategi gencatan senjata sementara demi menyelamatkan rakyat sipil dari pembantaian total, serta mengonsolidasikan kembali sisa pasukan yang tercerai-berai akibat Perang Makassar.
Dampak Fatal Traktat Bongaya Bagi Nusantara
Dampak politik dari penandatanganan traktat ini langsung mengubah peta geopolitik di wilayah Indonesia bagian timur secara permanen. Kerajaan Gowa kehilangan hak kedaulatan untuk mengatur wilayah lautnya sendiri dan dipaksa mengisolasi diri dari jaringan perdagangan internasional.
Selain itu, VOC berhasil menancapkan kuku kekuasaan militernya dengan mengubah Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Rotterdam, markas pertahanan utama mereka di Sulawesi. Kebebasan pelayaran niaga nusantara pun berakhir, digantikan oleh sistem kartel dagang Kompeni yang kaku.
Perjanjian Bongaya menjadi bukti nyata bagaimana strategi adu domba atau devide et impera yang memanfaatkan rivalitas domestik antara Bone dan Gowa berhasil memecah belah kekuatan lokal secara masif.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow