Kapan Prasasti Tugu Dibuat? Simak Fakta Sejarah Raja Purnawarman
Banyak pencinta sejarah yang penasaran mengenai kapan dan di bawah kepemimpinan siapa salah satu dokumen batu tertua di Nusantara ini diterbitkan. Prasasti Tugu dibuat pada masa pemerintahan Raja Purnawarman, penguasa agung dari Kerajaan Tarumanegara. Dokumen batu ini bukan sekadar penanda wilayah, melainkan prasasti yang mencatat proyek infrastruktur raksasa pada masanya.
Memahami peninggalan sejarah sering kali membingungkan jika kita hanya melihat teks terjemahan tanpa memahami konteks produksinya. Dari pengalaman saya mengkaji literatur sejarah klasik, kesalahan umum yang sering saya temui adalah kegagalan pembaca dalam memvisualisasikan skala ruang dan waktu dari pembuatan artefak itu sendiri.
Artikel ini akan memandu Anda secara instruksional untuk memahami seluk-beluk Prasasti Tugu. Kita akan membedah latar belakang waktu, isi titah raja, hingga bagaimana artefak ini ditemukan dan disimpan hingga saat ini.
Langkah pertama untuk memahami prasasti ini adalah dengan melacak garis waktu pembentukannya secara palaeografis. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa batu bertulis ini berasal atau dibuat pada pertengahan abad ke-5 Masehi. Penentuan waktu ini didasarkan pada analisis gaya dan bentuk aksara Pallawa yang terpahat di permukaannya.
Jika ditinjau dari kronologi internal teksnya, titah suci ini dikeluarkan pada tahun ke-22 masa pemerintahan Raja Purnawarman. Pada periode tersebut, Kerajaan Tarumanegara sedang berada di puncak kejayaannya sebagai salah satu otoritas politik terkuat di Pulau Jawa.
Prasasti Tugu dipahatkan pada batu andesit berbentuk bulat telur, lonjong, atau bulat panjang dengan ukuran tinggi sekitar 1 meter. Permukaan batu yang melingkar ini memuat 5 baris tulisan yang melingkari tubuh batu secara estetis.
Membedah Isi dan Proyek Megah Gomati
Langkah kedua adalah menganalisis apa isi prasasti tugu secara mendalam. Teks di dalam batu ini secara khusus mendokumentasikan pembangunan saluran air yang berfungsi vital bagi masyarakat. Raja Purnawarman memerintahkan penggalian dua sungai kuno, yaitu Sungai Candrabhaga dan Sungai Gomati.
Dimensi Galian dan Durasi Kerja
Pembangunan infrastruktur ini memecahkan rekor kecepatan kerja pada masanya. Berdasarkan catatan di atas batu andesit tersebut, proses penggalian sungai diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat, yaitu hanya 21 hari. Komitmen tenaga kerja dan manajemen logistik kerajaan tentu sangat masif untuk ukuran abad ke-5 Masehi.
Skala proyek ini terlihat jelas dari dimensi galian yang dihasilkan. Sungai Gomati yang digali memiliki panjang sepanjang 6.122 tombak, atau jika dikonversikan ke dalam satuan modern berkisar antara 11 hingga 12 km. Saluran ini berfungsi untuk mengalirkan air ke laut serta mencegah banjir yang kerap mengancam pemukiman.
Waktu Mulai dan Ritual Keagamaan
Proyek kolosal ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan mengikuti kalender astronomi kuno yang ketat. Pemotongan tanah pertama dan penyelesaian proyek dicatat secara presisi dalam sistem penanggalan Hindu. Berikut adalah detail waktu pelaksanaan proyek tersebut:
- Pekerjaan galian dimulai secara resmi pada tanggal 8 paro-petang bulan Phalguna.
- Seluruh proses penggalian disudahi pada tanggal 13 paro-terang bulan Caitra.
Setelah pembangunan fisik selesai, acara tidak langsung ditutup begitu saja. Raja Purnawarman mengadakan upacara selamatan dan pemberkahan yang dipimpin oleh kaum Brahmana. Sebagai bentuk rasa syukur dan hadiah atas doa-doa keselamatan, para Brahmana mengorbankan atau dihadiahi sekitar 1.000 ekor sapi oleh pihak kerajaan.
Kronologi Sejarah Penemuan Prasasti Tugu
Langkah ketiga adalah melacak sejarah penemuan prasasti tugu dari lokasi aslinya hingga masuk ke dalam pencatatan ilmiah modern. Penemuan batu andesit ini menjadi titik balik penting dalam rekonstruksi sejarah kerajaan kuno di Jawa Barat. Prasasti ini ditemukan di kawasan Tugu, Jakarta Utara, sebelum akhirnya dipindahkan demi keselamatan ket ketat-arsipan.
Penemuan ini tercatat pertama kali pada abad ke-19. Keberadaan batu bulat telur ini menarik perhatian para peneliti kolonial karena bentuknya yang tidak biasa dan adanya goresan tulisan kuno yang melingkar di sekelilingnya. Penemuan ini segera dilaporkan ke lembaga kebudayaan di Batavia.
Garis Waktu Penyelamatan dan Transkripsi
Proses evakuasi dan penelitian batu bersejarah ini memakan waktu yang cukup panjang melalui beberapa tahapan birokrasi dan akademis. Berikut adalah linimasa penyelamatan artefak berharga peninggalan kerajaan tarumanegara tersebut:
| Tahun | Peristiwa Sejarah | Nomor Inventaris / Tokoh Terkait |
|---|---|---|
| 1879 | Pertama kali tercatat dalam laporan Notulen Bataviaasch Genootschap | J.A. Van der Chijs |
| 4 Maret 1879 | Rapat pimpinan membahas penemuan prasasti dilakukan di Batavia | Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen |
| 1885 | Transkrip prasasti pertama kali dikerjakan untuk dibaca teksnya | H. Kern |
| 1910 | Pekerjaan lanjutan transkrip dan analisis aksara Pallawa | H. Kern |
| 1911 | Dipindahkan ke museum atas prakarsa P. de Roo de la Faille | D.124 |
Berdasarkan koordinat geografis aslinya, batu andesit ini ditemukan di koordinat 6°07’45,40” LS dan 0°06’34,05” BT dari Jakarta. Lokasi penemuan lapangan tersebut berada di sekitar 06°07′45.4″ LS 106°55′04.6″ BT yang letaknya dekat dengan Simpang Lima Semper, dekat Kali Cakung, Jakarta Utara.
Kondisi Penyimpanan di Era Modern
Bagi Anda yang ingin melihat langsung fisik batu ini, pertanyaan mengenai di mana letak prasasti tugu sekarang sering kali muncul. Setelah dipindahkan pada tahun 1911 atas usaha P. de Roo de la Faille, prasasti ini disimpan di Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.
Lembaga museum purbakala tersebut kini telah berganti nama menjadi Museum Nasional yang terletak di Jakarta Pusat. Di dalam gedung museum, batu andesit seberat ratusan kilogram ini didaftar secara resmi dengan nomor inventaris D.124 dan dipajang di ruang pameran agar bisa dipelajari oleh masyarakat luas.
Hubungan Prasasti Tugu dengan Toponimi Daerah
Langkah keempat adalah memahami dampak jangka panjang dari keberadaan saluran air yang digali oleh Purnawarman terhadap penamaan geografi modern. Banyak sejarawan mengaitkan catatan dalam prasasti ini dengan asal usul nama kota bekasi yang kita kenal sekarang.
Kata Candrabhaga yang tertulis di dalam prasasti merujuk pada nama sungai yang mengalir melewati wilayah kerajaan. Dalam perkembangannya, nama Candrabhaga mengalami proses perubahan fonetis dan pergeseran bahasa dari bahasa Sanskerta ke bahasa Jawa Kuno, lalu diserap ke dalam bahasa lokal menjadi Bhagasasi.
Lidah masyarakat setempat lambat laun mengubah pelafalan kata Bhagasasi menjadi Bagasi, hingga akhirnya memadat menjadi kata Bekasi. Hal ini membuktikan bahwa proyek pengairan yang diinisiasi oleh siapa raja yang membuat prasasti tugu, yaitu Purnawarman, meninggalkan warisan linguistik yang bertahan selama lebih dari seribu lima ratus tahun.
Gaya kepemimpinan Raja Purnawarman memperlihatkan bahwa legitimasi seorang penguasa di masa lalu tidak hanya dibangun lewat penaklukan militer, tetapi juga melalui kemampuannya dalam menyediakan infrastruktur publik yang langsung menyentuh hajat hidup orang banyak.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow