Kenapa Monarkisme Masih Memikat dan Bagaimana Pola Penipuan Berkedok Kerajaan Memanfaatkan Mitos Ini

Smallest Font
Largest Font

Pembahasan mengenai bagaimana monarkisme tetap eksis di era modern sering kali memicu perdebatan sengit mengenai efektivitas dan relevansinya bagi masyarakat kontemporer. Bagi sebagian orang, gagasan tentang kekuasaan yang berpusat pada satu keluarga terdengar usang di tengah gempuran sistem demokrasi global. Namun, fakta menunjukkan bahwa ket ketertarikan terhadap arti sistem kerajaan tidak pernah benar-benar pudar, bahkan sering kali bertransformasi menjadi fenomena sosiologis yang unik.

Saya melihat ada garis batas yang tipis antara penghormatan terhadap tradisi sejarah dan romantisisme buta yang justru dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Untuk memahami dinamika ini, kita harus jeli melihat perbedaan mendasar pada istilah yang sering dicampuradukkan oleh masyarakat awam. Banyak yang bingung mengenai beda monarkis dan royalis dalam konseptualisasi politik formal.

Secara sederhana, seorang monarkis mendukung monarkisme sebagai sebuah sistem pemerintahan yang sah, terlepas dari siapa individu yang duduk di atas takhta tersebut. Mereka percaya bahwa kepemimpinan tunggal yang turun-temurun memberikan stabilitas politik yang jauh lebih kokoh dibandingkan dengan sistem pemilu yang kerap membelah suara rakyat setiap beberapa tahun sekali.

Sebaliknya, seorang royalis memiliki keterikatan personal yang jauh lebih spesifik. Seorang royalis mendukung dinasti tertentu atau person tertentu dari keluarga kerajaan karena faktor kesetiaan, karisma, atau ikatan historis keluarga.

Perbedaan ini krusial karena dalam realitas politik modern, seseorang bisa saja menjadi monarkis tanpa harus menyukai figur raja yang sedang berkuasa saat ini, atau sebaliknya.

Jika kita merujuk pada referensi literatur klasik, istilah ini memiliki akar definisi yang sangat tegas.

Kamus Webster's Encyclopedic Unabridged Dictionary of the English Language edisi tahun 1989 pada halaman 924 mendefinisikan monarkisme sebagai sistem pemerintahan monarki atau prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya. Artinya, ini adalah cetak biru struktural, bukan sekadar urusan kagum pada kemegahan jubah atau mahkota raja.

Kuasa Raja Bagai Tuhan!? Inilah Negara dengan Sistem Pemerintahan Monarki atau Kerajaan Dunia | Geolive

Akar Psikologis di Balik Dukungan Terhadap Sistem Kerajaan

Pertanyaan besar yang sering muncul di benak masyarakat modern adalah "kenapa ada orang mendukung kerajaan" di saat akses informasi dan kesetaraan hak sudah begitu terbuka?

Jawaban atas teka-teki ini tidak bisa dilepaskan dari aspek antropologi dan psikologi massa. Manusia pada dasarnya selalu mencari kepastian dan figur pelindung di tengah situasi dunia yang penuh dengan gejolak ekonomi serta ketidakpastian politik.

Sistem kerajaan menawarkan narasi kontinuitas yang menenangkan.

Pengaruh Pandangan Dunia Supranatural

Faktor lain yang sangat memengaruhi cara pandang ini adalah warisan kultural masa lalu. Filsuf Van Peursen pernah menyatakan bahwa secara historis masyarakat Indonesia pernah dibesarkan dengan kebudayaan mistis dan dijejali dengan pandangan dunia yang supranatural. Pandangan dunia seperti ini tidak hilang begitu saja ketika sebuah negara berubah menjadi republik.

Isi kepala masyarakat masih menyisakan ruang bagi pengkultusan individu yang dianggap memiliki pulung atau wahyu kepemimpinan supernatural.

Karisma Kolektif dan Mitos Kebudayaan

Romantisisme terhadap kejayaan masa lalu juga kerap direproduksi untuk kepentingan tertentu. Sejarawan sosiologi Adrian Perkasa dalam tulisannya yang berjudul "Revivalisme Majapahit: Antara Fantasi dan Mythomoteur" di Jawa Pos pada tanggal 16 Januari 2020 memberikan analisis yang tajam mengenai hal ini. Masyarakat sering kali terjebak dalam fantasi kejayaan masa lalu untuk melarikan diri dari realitas hidup yang menghimpit.

Ketika ada pihak yang menawarkan pemulihan kejayaan tersebut, massa dengan mudah terseret ke dalam arus dukungan tanpa nalar kritis.

Sisi Gelap Romantisisme Eksploitasi dan Contoh Kerajaan Palsu di Indonesia

Kecenderungan psikologis masyarakat yang merindukan figur pelindung mistis ini sayangnya menjadi ladang subur bagi praktik kriminal. Kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta munculnya contoh kerajaan palsu di indonesia yang sempat menggemparkan ruang publik beberapa tahun lalu.

Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah peristiwa penipuan berkedok kerajaan purworejo. Kelompok yang menamakan diri Keraton Agung Sejagat (KAS) berhasil menjaring pengikut dalam jumlah yang tidak sedikit.

Berdasarkan data sejarah, jumlah pengikut Keraton Agung Sejagat berkisar antara 150 hingga 450 orang. Angka ini tentu sangat fantastis untuk sebuah entitas yang sama sekali tidak memiliki legitimasi hukum maupun historis yang valid. Mari kita bedah karakteristik dari fenomena sosial yang memprihatinkan ini melalui tabel analisis berikut.

Analisis Karakteristik Kebudayaan dan Pengikut Keraton Agung Sejagat
Aspek AnalisisTemuan Faktual
Karakteristik PengikutSebagian besar berasal dari masyarakat bawah
Metode LegitimasiReproduksi mitos menjadi etos baru via mythomoteur
Motivasi PemimpinMeneguhkan diri, menarik perhatian, memantik keuntungan
Basis Budaya LamaKebudayaan mistis dan pandangan dunia supranatural

Melihat data di atas, terlihat jelas bagaimana kerentanan ekonomi dan sosial masyarakat bawah dieksploitasi secara kejam.

Adrian Perkasa memaparkan analisis sociological history untuk memetakan fenomena Keraton Agung Sejagat ini. Ia menyatakan bahwa Totok Santosa mereproduksi mitos menjadi etos baru melalui mythomoteur untuk meneguhkan diri sebagai raja, menarik perhatian, dan memantik keuntungan pribadi. Ini adalah murni tindakan penipuan yang memanfaatkan kedok pelestarian budaya tradisional.

Komodifikasi Tradisi yang Merusak Citra Monarki Autentik

Menurut saya, keberadaan kerajaan fiktif seperti ini tidak hanya merugikan para korban secara finansial, tetapi juga merusak citra institusi monarki adat yang asli.

Kekurangan terbesar dari pembiaran fenomena ini adalah pudarnya rasa hormat masyarakat terhadap keraton atau kesultanan riil yang masih memegang teguh nilai sejarah. Masyarakat awam menjadi skeptis dan menyamaratakan semua ekspresi budaya kerajaan sebagai kedok penipuan uang.

Padahal, monarkisme kultural yang sah memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas adat dan perekat sosial di berbagai daerah. Eksploitasi spiritual dan material yang dilakukan oleh oknum kerajaan palsu murni didorong oleh keserakahan ekonomi.

Mereka menjual pangkat, seragam mewah, dan janji-janji palsu tentang pencairan dana gaib kepada masyarakat yang sedang kesusahan. Ketika nalar sehat dikalahkan oleh mistisisme instan, maka runtuhlah tatanan logika sosial.

Keseimbangan Antara Menghargai Sejarah dan Menjaga Akal Sehat

Kita harus bisa menempatkan sejarah pada porsinya sebagai bahan refleksi, bukan sebagai alat untuk memutar kembali waktu ke sistem absolut yang tidak relevan.

Menghargai warisan monarki di masa lalu adalah bentuk pelestarian identitas bangsa. Namun, mendukung setiap gerakan yang mengeklaim diri sebagai kelanjutan dinasti kuno tanpa verifikasi akademis adalah kecerobohan nyata. Filter utama untuk menangkal penipuan semacam ini adalah pendidikan sejarah yang kritis dan penguatan literasi sosiologis di tingkat masyarakat bawah.

Jangan sampai kerinduan kolektif akan figur pemimpin yang mengayomi justru menjadi pintu masuk bagi para oportunis untuk mengeruk keuntungan finansial secara ilegal.

Follow ngajimatematika.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow