Negara yang Bergabung dalam OLDEFO dan Peta Kekuatan Zaman Soekarno
Mengetahui daftar negara yang bergabung dalam OLDEFO menjadi kunci penting untuk memahami dinamika politik luar negeri Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin. Gagasan besar ini dicetuskan oleh Presiden Soekarno di tengah ketegangan geopolitik global untuk memetakan kekuatan dunia secara radikal. Melalui pengelompokan ini, Indonesia berusaha mengambil posisi tegas dalam konfrontasi melawan kekuatan imperialisme barat.
Mari kita bedah klasifikasi kelompok ini secara mendalam agar Anda dapat memahami peta politik masa lalu secara terstruktur. Langkah awal untuk memahami konseptualisasi ini adalah dengan melihat kembali momen sejarah di awal dekade 1960-an. Berdasarkan catatan Kompas, Presiden Soekarno menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT Gerakan Non-Blok di Belgrad, Serbia, Yugoslavia pada September 1961.
Dalam forum internasional tersebut, Soekarno pertama kali melontarkan konsep pembagian kekuatan dunia baru, yaitu OLDEFO dan NEFO. Konsep ini lahir sebagai respons atas kejenuhan terhadap polarisasi Perang Dingin yang kaku.
Bagi Soekarno, konflik dunia sesungguhnya bukan sekadar pertentangan ideologi antara Blok Barat dan Blok Timur. Masalah utama dunia adalah benturan kepentingan antara kaum penjajah dan bangsa-bangsa yang terjajah.
Arti OLDEFO dalam Peta Politik Dunia
OLDEFO merupakan singkatan dari Old Established Forces, yang secara harfiah berarti kekuatan mapan yang lama. Istilah ini merujuk pada sekumpulan negara Barat kapitalis yang telah lama menikmati kemakmuran melalui eksploitasi global.
Dalam pandangan politik Indonesia saat itu, kelompok ini diasosiasikan sebagai blok imperialis yang berkarakter reaksioner. Mereka dinilai cenderung mempertahankan status quo kolonialisme demi menjaga dominasi ekonomi dan politik mereka.
Arti NEFO sebagai Kekuatan Tandingan
Sebaliknya, NEFO atau Newly Emerging Forces merujuk pada kekuatan kelompok negara berkembang baru. Kelompok ini menyatukan bangsa-bangsa yang memiliki semangat antikapitalisme, antikolonialisme, dan anti-imperialisme.
Negara-negara di dalam NEFO diasosiasikan sebagai kelompok komunis dan progresif yang menginginkan tatanan dunia baru yang adil. Indonesia memposisikan dirinya sebagai salah satu motor penggerak utama dalam kelompok progresif ini.
Daftar Negara yang Masuk dalam Kelompok OLDEFO
Bila muncul pertanyaan "negara mana saja yang masuk oldefo", maka jawabannya berpusat pada episentrum kapitalisme global. Negara-negara ini mengandalkan kekuatan ekonomi dan pangkalan militer yang tersebar di seluruh dunia.
Dari pengalaman saya menganalisis dokumen sejarah, kesalahan umum yang sering ditemui adalah mencampuradukkan Uni Soviet sepenuhnya ke dalam satu kubu saja. Berdasarkan sumber literatur nasional, dinamika internal kelompok mapan ini ternyata cukup kompleks.
Berikut adalah deretan negara utama yang dikategorikan ke dalam struktur kekuatan lama:
- Amerika Serikat (Pemimpin utama kapitalisme global)
- Inggris (Kekuatan kolonial klasik Eropa)
- Prancis (Negara imperialis dengan koloni luas di Afrika)
- Uni Soviet (Dimasukkan dalam klasifikasi berdasarkan kekuatan politik dan keamanan global tertentu)
Pengelompokan OLDEFO tidak murni berdasarkan letak geografis, melainkan pada kecenderungan negara tersebut dalam memelihara praktik kolonialisme klasik dan neokolonialisme.
Perbedaan Standar Antara OLDEFO dan NEFO
Dalam memetakan kedua kubu ini, Bung Karno tidak menggunakan indikator konvensional seperti tingkat pendapatan domestik bruto semata. Penilaian didasarkan pada sikap politik terhadap kemerdekaan bangsa lain.
Dilansir dari iNews, perbedaan kedua kelompok ini didasarkan secara kuat pada tiga pilar utama, yaitu kekuatan ekonomi, keamanan, dan politik. Kombinasi ketiga faktor ini menentukan apakah suatu negara masuk dalam kategori mapan atau progresif.
| Faktor Pembeda | Kelompok OLDEFO | Kelompok NEFO |
|---|---|---|
| Ideologi Utama | Kapitalisme & Liberalisme | Anti-Kapitalisme & Progresif |
| Sikap Politik | Melestarikan Imperialisme | Antikolonialisme & Anti-imperialisme |
| Kondisi Ekonomi | Mapan & Industri Maju | Negara Berkembang Baru |
| Asosiasi Blok | Barat Reaksioner | Komunis & Non-Blok Progresif |
Melalui tabel di atas, kita bisa melihat dengan jelas garis demarkasi ideologis yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia saat itu. Perbedaan fundamental ini yang memicu ketegangan diplomatik di berbagai forum internasional.
Langkah Mengidentifikasi Jejak Sejarah Kekuatan Geopolitik
Untuk menelusuri bagaimana konsep ini dijalankan dalam praktik diplomasi nyata pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965), Anda bisa mengikuti langkah-langkah analitis berikut:
- Pelajari Pidato Sidang Umum PBB: Cermati momen tanggal 30 September 1960 saat Ir. Soekarno menawarkan Pancasila sebagai dasar PBB sekaligus mengkritik dominasi negara besar.
- Analisis Kepesertaan KTT Belgrad: Periksa daftar 25 negara yang menghadiri Konferensi GNB di Belgrad pada September 1961, yang terdiri dari 11 negara Asia, 11 negara Afrika, Yugoslavia, Kuba, dan Siprus.
- Identifikasi Negara Anggota NEFO: Petakan negara yang menjadi mitra Indonesia seperti India, Pakistan, Yugoslavia, China, Rusia, Mesir, Aljazair, serta negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
- Amati Bekas Infrastruktur Fisik: Kunjungi Kompleks Gedung DPR/DPD/MPR RI di Jakarta, yang dalam sejarahnya merupakan bekas kantor pusat proyek politik NEFO.
Dari pengamatan nyata terhadap arsitektur bersejarah di Jakarta, pembangunan gedung berskala besar saat itu memang dirancang untuk menandingi kemegahan fasilitas politik milik blok mapan Barat.
Dampak Pengelompokan Kekuatan Terhadap Hubungan Internasional
Polarisasi tajam ini membawa dampak besar pada posisi geopolitik Indonesia di mata dunia. Hubungan diplomatik dengan negara-negara Barat mengalami penurunan drastis karena retorika anti-imperialisme yang kencang.
Puncaknya terjadi ketika Indonesia memutuskan keluar dari keanggotaan PBB akibat konfrontasi politik dan masuknya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan. Langkah berani ini diambil karena PBB dianggap terlalu dikendalikan oleh kepentingan blok mapan.
Meski konfrontasi ideologi abad ke-20 ini telah berakhir seiring selesainya Perang Dingin, sisa pengaruhnya masih terasa hingga kini. Menariknya, koalisi negara berkembang saat ini seperti BRICS (Brasil, India, Rusia, China, dan South Africa) memiliki keterikatan historis yang kuat, di mana keempat negara pendiri awalnya merupakan bekas negara yang dulu bergabung dalam jaringan NEFO bentukan visi masa lalu.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow